Minggu, 04 April 2010

TIPS MENGETAHUI KEMURNIAAN BENSIN PREMIUM


Sebagian besar orang menggunakan bensin sebagai bahan bakar untuk transportasi. Buktinya, banyaknya orang yang telinganya merah akibat naiknya harga BBM khususnya bensin premium tersebut. Di sini sengaja membahas bensinnya premium bukan pertamax (hayo siapa yang pertamax..hehe) coz di sini blognya wong cilik..

Rugi berat jika kita menggunakan premium yang sudah terkontaminasi dengan zat lain atau partisi (halah pake bahasa apa tho) itu biasanya minyak tanah, solar, kerikil, batu bata, HP, air, (hehehehe)…Apalagi kalau belinya bensin premium di tukang eceran Mr. X, wah campur keringatnya dan gak 1 liter lagi (peace Mr. X), jan Kates (bhs jawanya pepaya) Jakarta alias payah..Huh..

Nah, ini tips cara mengetahui kadar bensin Premium tercampur dengan partisi lain yang dijual di Mr. X ato di SPBU atau pom bensin. Klo bensin tercampur kerikil, pasir apalagi kecampur batu bata ato truknya PERTAMINA jelas cetho mloho kan.. Cara ini tentunya yang terkontaminasinya bensin premium dengan minyak tanah atau sejenisnya yang tercampur secara homogen…

Saatnya serius..Ayo, mulai serius belajar Kimia, begini tips cara tahu bensin premium itu murni apa gak:

1. Siapkan sample bensinnya, ambil bensinnya klo bisa dari SPBU atau eceran jangan ambil dari sepeda motor atau dari mobil dengan sedeton apalagi pakai selang air..ntar ketelen lho..hehe..tapi pake pipet, biasanya dijual di apotek. Intinya bensinnya disiapkan ya pakai versinya blogger sendiri.

2. Wadahi tu bensin dengan wadah yang terbuat dari kaca jangan yang plastik nanti melarutkan plastiknya..panci juga boleh.hehehe..yang terpenting wadahnya gelas kaca, bersih and kering.

3. Biarkan beberapa hari atau beberapa jam di tempat terbuka supaya bensin itu menguap, tergantung volume bensinnya. Atau klo gak sabar ya panasin itu wadah dengan pemanas sedang saja mengingat bensin itu mudah menguap. Lebih bagusnya didiamkan saja sebentar ato beberapa jam. Lebih bagus lagi ditutup pakai alumunium foil terus dilubangin.

4. Nah, klo bensin sudah menguap. Amati dan telitilah (halah). Jika gak ada sisa diwadahnya berarti itu bensin murni. Klo ada sisanya berati ada campurannya. Jika campurannya minyak tanah atau tercampur solar maka akan terlihat karena titik didih bensin lebih rendah daripada minyak tanah atau solar. (paham gak ya?). ato lebih gampangnya bensin lebih menguap dari pada minyak tanah atau solar apalagi air.


Tips ini didasarkan pada teori dan prinsip destilasi minyak bumi, Distilasi atau penyulingan adalah suatu metode pemisahan bahan kimia berdasarkan perbedaan kecepatan atau kemudahan menguap (volatilitas) bahan. Dalam penyulingan, campuran zat dididihkan sehingga menguap, dan uap ini kemudian didinginkan kembali ke dalam bentuk cairan. Zat yang memiliki titik didih lebih rendah akan menguap lebih dulu.

Ini adalah tips yang sederhana jika lebih teliti lagi ya di laboratorium (seperti gambar di atas alatnya).

Semoga bermanfaat.

MAKALAH KOLOID

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 . Latar Belakang
Koloid adalah suatu bentuk campuran yang keberadaannya terletak antara suspesi dan larutan. Contohnya susu kental manis. Ada dua cara pembuatan koloid , yaitu cara kondensasi dan cara dispensi. Pada cara kondensasi partikel melokeler dikondensasikan menjadi partikel dengan ukuran koloid. Pada cara dispersasi bahan dalam bentuk kasar dihaluskan kemudian didispersasikan kedalam medium perdispersinya. Contohnya pada pembuatan agar-agar dan pencampuran larutan detergen dengan air dan minyak tanah.

1.2 Tujuan Percobaan
Tujuan percobaan pembuatan koloid adalah untuk mengetahui cara pembuatan koloid secara dispersi.

1.3. Permasalahan
Gel agar-agar tidak akan terbentuk apabila serbuk agar-agar yang dicampur dengan aguadest tidak dipanaskan dan kemudian didinginkan dan pada pencampuran air dan minyak tanah, keduanya tidak akan menyatu kalau tidak ditambahkan larutan detergen sebagai pengemulsinya.


1.4. Ruang lingkup
Percobaan pembuatan koloid dilakukan di laboratorium MIPA (Kimia, Fisika dan Biologi) yang berada dibiro lama UNIGHA , yaitu dijalan rawa Sigli. Percobaan ini berada pada kondisi ruangan + 25˚ C dan tekanan 1 atm.



BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Koloid adalah suatu bentuk campuran yang keberadaannya terletak antara suspensi dan larutan. Pembuatan koloid dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu :
1. Cara Kondensasi
Pada pembuatan koloid dengan cara kondensasi partikel larutan sejati yang terdiri atas melekul-melekul atau ion diubah menjadi partikel koloid, cara kondensasi dilakukan dengan reaksi kimia sebagai berikut :
a. Reaksi Hidrolisis
Bila larutan pekat suatu garam seperti FeCl3 ditambah air panas secara perlahan-lahan, maka akan terhidrolisis sebagai berikut :

FeCl3 + 3 H2O Fe (OH )3 + 3 HCl

Air panas ditambahkan sampai terbentuk sol Fe (OH )3 yang stabil .
b. Reaksi Pengendapan
c. Reaksi Oksidasi-Reduksi
d. Pergantian Pelarut
Larutan resin didalam alkohol diteteskan kedalam air, resin akan menjadi koloid. Contoh lain adalah larutan asetat jenuh dituangkan kedalam alkohol, maka akan terbentuk gel.

2. Cara Dispersi
Pada pembuatan koloid dengan cara dispersi, partikel kasar dihaluskan menjadi partikel ukuran koloid, dengan cara sebagai berikut :
a. Cara Mekanik
Yaitu dengan cara partikel kasar dihaluskan dalam penggiling koloid, kemudian didispersikan kedalam medium pendispersinya yaitu zat cair, contoh penggunaan cara mekanik adalah pada pembuatan koloid karbon untuk tinta.
b. Cara Bredig
Sol logam seperti sol emas dan platina dalam air dibuat dengan cara bredig, kawat logam tersebut dijadikan elektrolik dan dimasukkan kedalam air kemudian dialiri listrik.
c. Cara Peptisasi
Cara ini dilakukan dengan mengocok endapan koloid didalam medium pendispersinya sambil menambahkan zat peptisasi yang dapat memecah partikel kasar menjadi koloid. Contohnya pada pembuatan gel agar –agar dimasak dengan air menjadi gel agar-agar.
Seperti yang telah diuraikan diatas bahwa kestabilan partikel koloid dapat tergangu oleh adanya ion-ion. Ion-ion pengganggu kestabilan koloid dapat dihilangkan dengan cara dialisis. Apabila kestabilan koloid tergannggu maka partikel-partikel koloid tersebut bergabung satu sama lain membentuk endapan. Pengendapan koloid disebut koagulasi atau penggumpalan. Koagulasi dapat terjadi dengan cara kimia dan cara mekanik. Cara mekanik biasanya dilakukan dengan pemanasan, pendinginan atau pengaduan.
Karet alam merupakan sol karet. Penggumpalan karet akan terjadi bila lateks diberi asam semut atau asam cuka. Pada industri yang memproduksi sarung karet untuk kes hatan, maka sol itu akan menghasilkan ketebalan karet yang tepat.
Untuk menyediakan air bagi keperluan sehari-hari dikota-kota, maka air sungai atau air dari sumber lainnya yang kotor harus dibersihkan terlebih dahulu. Pengolahan air bersih ini didasarkan pada sifat-sifat koloid yaitu koagulasi.
Jenis-jenis dispersi sistem koloid
Ada delapan jenis dispersi sistem sistem koloid, yaitu :
No Jenis Nama Contoh
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Gas dalam zat cair
Gas dalam zat padat
Cair dalam gas
Cair dalam cair
Cair dalam padat
Padat dalam gas
Padat dalam cair
Padat dalam padat Buih atau busa
Busa padat
Aerosol cair
Emulsi
Emulsi padat
Aerosol padat
Sol
Sol padat Buih sabun,buih krim
Stiropoam,karet busa,batu apung
Kabut,awan
Susu,mayones,margarin,
Keju,jelly
Asap, debu diudara
Tinta cina
Karet gelang,karet roda

Susu merupakan salah satu sistem koloid yang tergolong emulsi. Susu terdiri dari minyak sebagai zat terdispersi, air sebagai medium pendispersi dan kasein (sejenis protein) sebagai zat pengemulsi.Zat yang berfungsi sebagai pengemulsi disebut emulgator. Mayones merupakan emulsi minyak dalam air dengan kuning telur sebagai emulgatornya. Busa telur yang dibuat dengan mengocok putih telur merupakan sistem koloid gas dalam zat cair. Obat-obatan ataupun penisilin diduah dalam bentuk koloid sehingga dapat disuntikkan kedalam tubuh. Cat merupakan suatu sistem koloid dari zat padat yang terdispersi dalam medium cair.

Sifat-Sifat Koloid
Koloid mempunyai sifat khas yaitu efek Tyndall dan gerak Brown
1. Efek Tyndall
Dengan menggunakan lampu senter yang diarahkan keberbagai koloid, efek Tyndall dapat dilihat dengan jelas . Efek Tyndall pada koloid disebabkan hamburan sinar oleh partikel koloid. Sinar tersebut tampak akibat pemantulan sinar saat mengenai partikel koloid itu. Efek tyndall dapat digunakan untuk membedakan koloid dari larutan sejati, karena berkas cahaya yang melewati koloid dapat diawali dari arah samping.Sedangkan larutan sejati bersifat meneruskan cahaya (transparant)
2. Gerak Brown
Jika koloid dilihat dengan mikroskop ultra akan tampak partikel-partikel koloid bergerak secara acak . Gerakan partikel koloid didalam mediumnya ini disebut gerak Brown. Gerakan partikel itu disebabkan tabrakan antara molekul medium pendispersi dengan zat yang terdispersikan. Gerak Brown sekaligus merupakan salah satu faktor yang menstabilkan koloid. Karena partikel koloid bergerak terus menerus maka gaya gravitasi dapat diimbangi sehingga tidak terjadi endapan.
Gerak Brown akan makin cepat jika suhu koloid dinaikkan. Karena semakin tinggi suhu energi kinetik molekul medium semakin kuat sehingga menghasilkan tumbuhan yang lebih kuat.
Berdasarkan interaksi antara partikel terdispersi dengan medium pendispersinya,maka sistem koloid dibedakan menjadi dua macam ,yaitu :
1. Koloid Liofil
Adalah koloid yang fase terdispersinya suka menarik medium pendispersinya. Peristiwa ini disebabkan gaya tarik antara partikel-partikel terdispersi dengan medium pendispersinya kuat.
2. Koloid Liofob
Adalah sistem koloid yang fase terdispersinya tidak suka menarik medium pendispersinya. Bila medium pendispersinya air, maka koloid disebut juga sebagai koloid hidrofil, sedangkan koloid liofob sdisebut sebagai koloid hidrofob.

Pemanfaatan sifat hidrofob dan hidrofil terlihat pada penggunaan detergen pada proses pencucian pakaian. Kotoran yang mempel pada pakaian seperti lemak dan minyak tidak larut dalam air. Proses pencucian bertujuan agar lemak dan minyak dapat teremulsi didalam air. Dengan bantuan detergen atau sabun,maka minyak akan tertarik oleh detergen. Kemampuan detergen menarik lemak ada minyak disebabkan pada molekul detergen terdapat ujung-ujung liofil yang larut dalam air dan ujung liofob yang berpegang erat pada lemak dan minyak.
Perbedaan dari sifat kedua koloid tersebut dapat terlihat pada tabel berikut :

No Sifat Sol Liofil Sol Liofob
1.


2.
3.

4.


5.



6. Daya adsorpsi terhadap medium

Efek Tyndall
Viskositas ( kekentalan)
Koagulasi


Lain-lain



Contoh Kuat, mudah mengabsorbsi mediumnya sehingga ukuran partikelnya dapat semakin besar.
Kurang jelas.
Lebih besar dari apad mediumnya.

Sukar terkoagulasi


Bersifat reversibel (bila sudah terkoagulasi dapat dengan mudah dijadikan koloid lagi)

Sabun,detergen,agar-agar, kanji gelatin Tidak mengasorsi mediumnya

Sangat jelas
Hampir sama dengan mediumnya
Mudah terkoagulasi ( kurang stabil)

Inreversibel ( bila sudah pengumpal,sukar di koloidkan kembali)
Sol logam,darah,sol Fe(OH)3


BAB III
PROSEDUR PERCOBAAN

3.1 Alat dan Bahan
1. Alat
- Tabung Reaksi
- Gelas ukur
- Rak tabung
- Penjepit
- Spanula
- Kaki tiga
- Lampu spiritus
2. Bahan
- Agar-agar
- Minyak tanah
- Larutan detergen
- Aquadest

3.2 Cara Kerja
1. Pembuatan sol/ gel agar-agar
Isilah tabung reaksi dengan aquadest hingga kira-kira sepertiga tabung. Tambahan 1 spatula agar-agardan aduk. Panaskan tabung beserta isinya sampai mendidih, dan itu berarti kita telah membuat sol agar-agar. Dinginkan campuran itu untuk memperoleh gel agar-agar.
2. Pembuatan Emulsi minyak dalam air
a. Masukkan kira-kira 5 ml air dan 1 ml minyak tanah kedalam tabung reaksi. Guncangkan tabung reaksi dengan keras. Kemudian letakkan tabung itu pada rak tabung. Perhatikan apa yang terjadi
b. Masukkan kira-kira 5 ml air dan 1 ml minyak tanah dan 1 ml larutan detergen ke dalam tabung lain. Guncangkan tabung dengan keras, kemudian letakkan tabung itu pada rak tabung. Perhatikan apa yang terjadi. Kita telah membuat emulsi minyak dalam air dengan detergen sebagai pengemulsinya.


BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

A.Hasil
1. Pembuatan sol / gel agar-agar
Koloid ini terjadi secara dispersi, dimana agar-agar dipanaskan dengan aiir dan terbentuk sol. Sol merupakan sistem koloid yang partikel terdispersinya zat padat berada pada medium pendispersinya serbuk agar-agar dan medium pendispersinya.
2. Pencampuran air dan minyak
Pada pencampuran air dan minyak, air berada dibawah dan minyak diatasnya. Tidak menyatu air dengan minyak. Hal itu dikarenakan air dan minyak berbeda massa jenisnya walaupun keduanya merupakan zat cair.
3. Pencampuran air minyak dan larutan detergen
Larutan detergen mengemulsi minyak dalam air, sehingga larutan detergen dapat menyatukan minyak dan air dan larutan detergen mengemulsi dengan cara dispersi.

B. Pembahasan
• Pembuatan koloid cara dispersi yaitu partikel kasar dihaluskan menjadi partikel ukuran koloid dan kemudian didispersikan kedalam medium pendispersinya. Conyoh pada pembuatan sol/ gel agar-agar yaitu serbuk agar-agar yang didispersi oleh air menghasilkan gel.
• Sol merupakan sistem koloid yang partikel terdispersinya zat padat dan medium pendispersinya zat cair. Gel seperti pada gel agar-agar merupakan sol atau koloid yang setengah kaku
• Larutan mengemulsi minyak dalam air yaitu dimana larutan detergen dapat menyatukan minyak dengan air.
• Kemampuan detergen menarik minyak disebabkan pada molekul detergen terdapat ujung-ujung liofil yang dalam air dan ujung-ujung liofil yang berpegang erat pada minyk.Akibat gaya tarik menarik tersebut oleh molekul-molekul air yang mengikat kuat detergen.


BAB V
KESIMPULAN

Kesimpulan yang didapat dari percobaan pembuatan koloid yaitu :
1. Pembuatan gel agar-agar terjadi secara dispersi, serbuk agar-agar menjadi partikel terdispersinya dan air sebagai medium pendispersinya. Gel/ sol merupakan sistem koloid yang partikel terdispersinya zat padat.
2. Pada pencampuran air dan minyak, keduanya tidak akan menyatu kalau tidak diberika larutan detergen sebagai pengemulsinya
3. Detergen sebagai pengemulsi dapat menyatukan air dan minyak. Hal itu disebabkan pada detergen terdapat ujungt-ujung liofil yang larut dalam air dan ujung liofil yang berpegang erat pada minyak.
4. Gel seperti pada gel agar-agar merupakan sol atau yang setengah kaku.


DAFTAR PUTAKA

Prabawa, Hadi, KMG. Ilmu Kimia SMU Kelas 2, Erlangga, Bandung.

MAKALAH REAKSI KIMIA

BAB I
PENDAHULUAN


1.1. Latar Belakang
Reaksi kimia adalah suatu proses reaksi antar senyawa kimia yang melibatkan perubahan struktur dan melekul. Dalam suatu reaksi terjadi proses ikatan dimana senyawa pereaksi beraksi menghasilkan senyawa baru (produk). Ciri-ciri reaksi kimia yaitu : terbentuknya endapan, terbentunya gas, terjadi perubahan warna, terjadi perubahan suhu/temperature.

1.2. Tujuan Percobaan
Tujuan dari percobaan reaksi kimia adalah untuk mengetahui apa itu reaksi kimia dan mengamati terjadinya atau berlansungnya reaksi kimia, dengan melihat perubahan-perubahannya yang berbeda dengan senyawa pereaksinya. Serta menulis beberapa reaksi kimia dan hasil reaksinya.

1.3 Permasalahan
Dalam membuat reaksi kimia, apabila pencampurannya tidak cukup (tidak setara) maka hasil reaksinya tidak terlihat dengan jelas ( tidak nampak perubahan yang terjadi pada reaksi tersebut). Dan dalam percobaan reaksi kimia, yang dibuat hanya mereaksikan dua jenis zat.



1.4. Ruang Lingkup
Percobaan tentang reaksi kimia, dilakukan dilaboratorium MIPA (Biologi,Fisika,dan Kimia), yang berada dibiro lama UNIGHA, jalan rawa,Sigli. Percobaan ini berada pada kondisi ruangan + 25 ยบ C dan tekanan 1 atm.



BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Ilmu kima yaitu ilmu yang mempelajari tentang susunan, struktur, sifat, perubahan materi serta energi yang menyertai perubahan tersebut. Dalam Ilmu kimia, air dan alkohol digolongan senyawa, yaitu perpaduan dari dua jenis zat atau lebih dengan komposisi tertentu. Alkohol dapat terbakar karena karbon, oksigen dan hidrogen didalamnya membentuk ikatan yang kurang stabil dan dapat bergabung atau bereaksi dengan oksigen di udara, membentuk ikatan yang lebih stabil.
Apakah Reaksi kimia itu?
Reaksi kimia adalah suatu proses dimana zat-zat baru yaitu hasil reaksi, terbentuk dari beberapa zat aslinya yang disebut pereaksi. Biasanya suatu reaksi kimia disertai oleh kejadian-kejadian fisis, seperti : perubahan warna, terbentuknya endapan, pelepasan gas dan pelepasan energi serta penyerapan energi.
Jika terjadi reaksi kimia, , dapat diamati 3 macam perubahan, yaitu :
a. perubahan sifat
b. perubahan susunan
c. perubahan energi
Semua perubahan kimia tentu induk pada hukum pelestarian hukum energi dan hukum pelestarian energi massa.
Azas fundamental yang mendasari semua perubahan kimia merupakan daerah kimia teoritis, korelasi antara konsep unsur dan senyawa, dengan hukum terbentuk diatas diperoleh dalam Teori Atom Dalton, teori modern pertama mengenai atom dan molekul sebagai partikel fundamental dari zat-zat yang tumbuh dari teori ini. Hal yang paling penting dari teori atom Dalton yang hingga kini dapat diterima, yaitu ;
1. Atom adalah unit pembangun dari segala macam materi
2. Atom merupakan bagian tekecil dari suatu unsur yang masih mempunyai sifat sama dengan unsurnya.
3. Dalam reaksi kimia, atom tidak dimusnahkan ,tidak diciptakan dan tidak dapat diubah menjadi atom unsur lain.
Reaksi kimia hanyalah penataan ulang susunan atom-atom yang terlibat dalam reaksi. Hukum-hukum dasar kimia yaitu :
1. Hukum Lavoisier (Hukum kekekalan massa)
Lavoisier maenyimpulkan hasil penemuannya dalam suatu hukum yang disebut Hukum Kekekalan Massa : “ Dalam sistem tertutup, massa zat sebelum dan sesudah reaksi adalah sama.”
2. Hukum Proust (Hukum Perbandingan Tetap)
Proust menyimpulkan bahwa :” perbandingan massa unsur-unsur dalam suatu senyawa adalah tertentu dan tetap.
3. Hukum Dalton (Hukum Kelipatan Berganda)
Yaitu berkaitan dengan pasangan unsur yang dapat membentuk lebih dari satu jenis senyawa.
Jenis-jenis reaksi kimia,yaitu :
a. Pembakaran
Pembakaran adalah suatu reaksi dimana suatu unsur atau senyawa bergabung dengan oksigen membentuk senyawa yang mengandung oksigen sederhana.

contohnya :
CO2,H2O dan SO2
C3H8 + 5O2 3CO2 + 4H2O
2C6H14O4 + 15O2 12CO2 + 14H2O
b. Penggabungan (Sintetis)
Pengabungan yaitu suatu reaksi dimana sebuah zat yang lebih kompleks terbentuk dari dua atau lebih zat yang lebih sederhana (baik unsur maupun senyawa ). Contohnya :
- 2H2 + O2 2H2O
- CO + 2H2 CH3OH
c. Penguraian
Penguraian yaitu suatu reaksi dimana suatu zat dipecah menjadi zat-zat yang lebih sederhana.
Contohnya : 2 Ag2O 4Ag + O2
d. Penggantian
Penggantian yaitu suatu reaksi kimia dimana sebuah unsur pindahan unsur lain dalam suatu senyawa.
Contohnya : Cu + 2Ag + Cu2+ + 2 Ag
e. Metatesis ( pemindahan tanggal )
Metasis adalah suatu reaksi dimana terjadi pertukaran antara dua reaksi.
Contoh:
AgNO3 + NaCl AgCl + NaNO3


Beberapa contoh reaksi kimia
1. Reaksi yang mengandung endapan
a. PbCr2O + K2(NO3)2 Pb (NO3)2 + K2Cr 3O7
b. PbOH + Na (NO3)2 Pb (NO3)2 + Na OH
Dari reaksi tersebut, keduanya menghasilkan endapan berwarna putih. Hal itu disebabkan karena larutan Pb(NO3)2 yang merupakan endapan larutan ini, karena Pb(NO3)2 mempunyai sifat padat.
2. Reaksi yang menghasilkan perubahan warna
a. K2Cr2O7 + NaOH K2OH + NaCr207
b. K2Cr2O7 + HCl K2Cl + HCr2O7
Pada larutan K2Cr2O7 yang awalnya berwarna orange dan NaOH yang berwarna putih, maka setelah dicampur akan menghasilkan warna kuning. Begitu juga dengan larutan K2Cr204 yang berwarna kuning, setelah dicampurkan dengan HCl berwarna putih akan menghasilkan warna orange.
3. Reaksi yang menghasilkan gas
a. Zn + 2 HCl ZnCl2 + H2
Reaksi yang menghasilkan gas dapat terjadi bila lempengan logam seng (Zn) dicampurkan dengan larutan HCl.
Dari contoh-contoh diatas, maka dapat disimpulkan bahwa reaksi-reaksi kimia dapat dilihat dari perubahan-perubahan yang terjadi akibat pencampuran dua zat seperti terbentuk endapan, perubahan warna, dan menghasilkan gas.
Cara teringkas untuk memberikan suatu reaksi kimia adalah dengan menulis suatu persamaan kimia berimbang, yang merupakan pernyataan kualitatif maupun kuantitatif pereaksi yang terlibat. Tiap zat diwakili oleh rumus molekulnya. Menyatakan banyaknya atom-atom dari tiap macam dalam satuan zat tersebut. Tiga kelas umum reaksi yang dijumpai dalam reaksi kimia, yaitu :
1. Reaksi kombinasi langsung
2. Reaksi penukargantian sederhana
3. Rekasi penukargantian rangkap
Rekasi kimia mengubah zat-zat asal menjadi zat-zat baru (produk). Perubahan yang terjadi dapat dipaparkan dengan menggunakan rumus kimia zat-zat yang terlibat dalam reaksi tersebut. Cara pemaparan ini disebut persamaan reaksi. Misalnya, reaksi antara gas hydrogen dengan gas oksigen membentuk air, dipaparkan sebagai berikut :
2H2O (g) + O2 (g) 2H2O (l)
Tanda panah menunjukkan arah reaksi, dibaca “bereaksi menjadi”. Huruf kecil dalam kurung menyatakan wujud : g berarti gas, l berarti liquid (cairan), s berarti solid (padat), dan aq berarti aqueus (larutan dalam air).
Bilangan yang mendahului rumus kimia zat dalam persamaan reaksi disebut koefisien reaksi. Pemberian koefisien reaksi sesuai dengan teori atom Dalton, yang menyatakan bahwa dalam reaksi kimia atom-atom tidak dimusnahkan, tidak diciptakan, dan tidak dapat diubah menjadi atom lain, melainkan hanya mengalami perataan ulang. Persamaan rekasi yang sudah diberi koefisien yang sesuai disebut persamaan setara.
Penulisan persamaan reaksi dapat dilakukan dalam 3 langkah :
1. Menuliskan persamaan kata-kata yang terdiri dari nama dan keadaan zat-zat perekasi serta nama dan keadaan zat-zat hasil reaksi.
2. Menuliskan persamaan rumus yang terdiri dari rumus kimia zat-zat pereaksi dan zat-zat hasil reaksi, lengkap dengan keterangan wujud/keadaannya.
3. Menyetarakan, yaitu memberikan koefisien yang sesuai sehingga jumlah atom setiap unsur sama pada kedua ruas.


BAB III
PROSEDUR PERCOBAAN

1. Alat Dan Bahan
a. Alat
 Tabung reaksi
 Rak tabung
b. Bahan
1. Na2CO3 0,1 N
2. BaCl2 0,1 N
3. Pb(NO3)2 0,1 N
4. Na3PO4 0,1 N
5. HCl 6 N
6. NaOH 6 N
7. NH4OH 6 N
2. Cara Kerja
a. Susun 7 tabung reaksi yang bersih, lalu masing-masing tabung diberi label, yaitu :
1. Tabung 1 : Na2CO3 0,1 N
2. Tabung 2 : BaCl2 0,1 N
3. Tabung 3 : Pb(NO3)2 0,1 N
4. Tabung 4 : Na3PO4 0,1 N
5. Tabung 5 : HCl 6 N
6. Tabung 6 : NaOH 6 N
7. Tabung 7 : NH4OH 6 N
b. Memperhatikan isi tabung reaksi menurut petunjuk berikut dan mencatat perubahan yang terjadi pada setiap reaksi :
1. Mencampurkan ½ dari larutan NaOH ke larutan Pb(NO3)2
2. Mencampurkan ½ dari larutan HCl ke ½ larutan NaCO3
3. Mencampurkan larutan BaCl2 ke larutan Na2CO3
4. Mencampurkan sisa larutan HCl ke ½ larutan NaOH



BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil
1. NaOH + Pb(NO3)2 Na(NO3)2 + PbOH
Menghasilkan : ½ bening, ½ keruh, tidak ada endapan, mengeluarkan energi standar.
2. 2 HCl + NaCO3 H2CO3 + 2 NaCl
Menghasilkan : endapan, warna menjadi keruh, melepaskan energi standar beserta gas berupa CO.
3. BaCl2 + Na2CO3 BaCO3 + 2 NaCl
Menghasilkan : endapan, warna menjadi keruh, mengeluarkan gas dan sedikit melepaskan energi.
4. HCl + NaOH NaCl + H2O
Menghasilkan : warna bening, tidak terjadi endapan dan terdapat gelembung-gelembung gas.

B. Pembahasan
1. Terjadi endapan apabila larutan Na2CO3 dicampurkan dengan larutan HCl ataupun dengan BaCl2, karena larutan Na2CO3 lah yang merupakan endapan larutan ini.
2. Terjadi perubahan warna apabila larutan Na2CO3 dicampurkan dengan BaCl2 atau dengan larutan HCl, yaitu yang awalnya jernih menjadi keruh.
3. Terjadi gelembung gas apabila larutan HCl direaksikan dengan larutan NaOH karena larutan tersebut menghasilkan H2O yang menyebabkan terjadinya gelembung-gelembung gas.
4. Tidak terjadi endapan apabila NaOH direaksikan dengan HCl ataupun dengan larutan Pb(NO3)2


BAB V
KESIMPULAN

Kesimpulan yang diperoleh dari percobaan reaksi kimia,yaitu :
1. Suatu perubahan kimia ditandai dengan terbentuknya senyawa baru yang berbeda dengan senyawa pereaksinya.
2. Reaksi kimia dikatakan berlangsung apabila salah satu hal teramati diantaranya :
- Reaksi tersebut mengalami perubahan warna
- Ada terbentuk endapan
- Terjadi perubahan suhu atau terbentuk gas
3. Apabila Na2CO3 direaksikan dengan HCl ataupun dengan BaCl2 maka akan terbentuk endapan dan warna larutan tesebut menjadi keruh.
4. Apabila NaOH direaksikan dengan Pb(NO3)2 ataupun dengan HCl maka tidak ada terjadi endapan.

DAFTAR PUSTAKA

Purba, Michael, 2007. Kimia Untuk (SMA kelas X . Jilid 1 . Erlangga , Jakarta
www. Google. com. Reaksi Kimia.

Sabtu, 03 April 2010

4 April 2010, 11:47 Setelah Hampir 6 Tahun Pascatsunami Khairiah Temukan Kembali Buah Hatinya



Dari tanda-tanda fisik yang bisa terlihat secara kasat mata, seperti ada kemiripan dengan almarhum suaminya, Khairiah yakin 100 persen itu anaknya. Namun untuk memastikannya, ia bertekad mengumpulkan uang untuk biaya tes DNA.

KHAIRIAH (37), tak pernah menyangka jika pertemuannya dengan bocah gelandangan itu, pada Kamis (25/3) dua pekan lalu, akan memberikan makna cukup mendalam dalam kehidupannya. Padahal, dua hari lalu dia sempat mendamprat bocah usia sekitar sembilan tahun itu karena terlihat merokok layaknya orang dewasa.

“Pada hari Kamis itu entah kenapa tiba-tiba tangan kanan saya tergerak melambai ke bocah itu yang berada di seberang jalan. Sedangkan tangan kiri saya mengurut-urut dada karena kasihan melihat dia,” ujar Khairiah saat dikunjungi Serambi di rumah orang tuanya, Desa Meunasah Raya Aree, Kecamatan Delima, Pidie, Jumat (2/4).

Hari itu, rumah orang tua Khairiah dipenuhi oleh warga setempat dan desa tetangga. Seperti halnya Serambi, kedatangan warga ke rumah tersebut juga bertujuan untuk memastikan kebenaran berita yang cukup menghebohkan. Seorang warga setempat menemukan anaknya yang hilang dalam musibah tsunami, 24 Desember 2004 lalu.

Si bocah yang mengaku bernama Akbar, duduk bersila di hadapan warga yang memenuhi ruang tamu rumah tersebut. Sesekali ia tampak tersenyum saat menceritakan kisah hidupnya. Namun, di saat yang lain ia menangis sejadi-jadinya ketika ada yang menanyakan apakah ia ingin kembali ke Takengon.

Menurut pengakuan Akbar, selama ini ia tinggal dengan keluarganya di Pondok Sayur, Aceh Tengah. Ia mengaku anak ketiga dari lima saudara dan hidup bersama ayah dan ibu tirinya. “Menurut ayah ibu kandung saya merantau ke Malaysia,” ujarnya. Sejak beberapa bulan lalu, kata Akbar, ia bersama seorang kakak perempuannya lari dari rumahnya. Ia mengaku kerap dipukul oleh ayah atau ibu tirinya. Namun kemudian ia berpisah dengan kakaknya di Takengon. Akbar selanjutnya menuju ke Bireuen untuk kemudian pergi ke Banda Aceh bersama seorang temannya yang disebut bernama Ucok.

Di Banda Aceh, Akbar kemudian mengaku menjadi gelandangan dan pernah ditangkap oleh petugas penertiban sehingga dimasukkan ke sebuah yayasan yang disebutnya bernama “Aneuk Nanggroe” di kawasan Mata Ie. “Tapi saya tidak betah di sana, karena dipukul-pukul oleh abang-abang. Kemudian saya lari dan hidup dari pemberian orang,” ujarnya.

Selain di Banda Aceh, Akbar yang mengaku tidak pernah sekolah ini juga mengatakan ia sempat pula menjadi gelandangan di terminal Pinang Baris dan Amplas, di Kota Medan, Sumatera Utara. “Waktu di sana saya makan dari pemberian orang. Saya minta-minta dari warung ke warung,” ujarnya sambil tersenyum lebar saat ada warga menanyakan bagaimana cara dia meminta makan.

“Wah sangat mirip dengan almarhum bapaknya,” celutuk seorang perempuan di antara para pengunjung, saat melihat wajah Akbar yang mengembangkan senyuman. “Iya, coba lihat foto almarhum bapaknya, tak bergeser sedikit pun,” ujar Bustami, tokoh muda desa tersebut sembari memperlihatkan foto almarhum Muhammad Nur Munthe, suami Khairiah.

Tanda lahir
Khairiah yang membawa pulang anak tersebut mengaku sangat yakin jika Akbar itu adalah anaknya Muhammad Irfan, yang hilang dalam musiban tsunami, tanggal 26 Desember 2004 lalu. Keyakinan Khairiyah cukup beralasan, karena anak tersebut memiliki tanda lahir (tupui) di bagian punggung, dan tahi lalat di lipatan lutut kanannya.

“Belakangan setelah saya bawa pulang ke sini, ternyata semuanya mengatakan bahwa ia sangat mirip dengan almarhum suami saya. Sehingga saya semakin yakin bahwa dia adalah anak saya. Namun kata orang, jika mau pasti tentu harus melalui tes DNA yang menurut orang juga butuh biaya besar. Entah darimana saya harus mencari biayanya,” ujar Khairiah.

Ia menceritakan, saat tsunami menerjang pesisir Aceh tanggal 26 Desember 2004 lalu, Khairiah yang tinggal di Jalan Perintis, Gampong Punge Jurong, Banda Aceh, kehilangan suami (Muhammad Nur Munthe) dan tiga anaknya, masing-masing, Ismaturrahmi, Muhammad Arif Afdhal, dan Muhammad Irfan.

Khusus Muhammad Irfan, saat tsunami terjadi masih berusia 3 tahun. “Ia lahir tanggal 14 April 2001. Kalau saat ini ia sudah berumur sembilan tahun kurang beberapa hari. Sebaya dengan dia,” ujar Khairiyah menunjuk Akbar atau Irfan yang terlihat memilin-milin rambutnya. “Nah ini juga salah satu kebiasaan anak saya waktu kecil,” tambah Khairiah menunjuk ke arah tangan si bocah yang memilin rambut depannya.

Khairiah menceritakan, sejak beberapa waktu terakhir ia memang kerap melihat bocah itu lalu lalang di depan tempat ia berjualan nasi, di Jalan Diponegoro, berseberangan jalan dengan taman kota Banda Aceh. Namun, seperti halnya saat melihat bocah gelandangan lainnya, Khairiah juga tidak punya perasaan apa-apa, hingga pada Kamis (25/3) tiba-tiba tangan kanannya tergerak melambai ke arah si bocah yang berjalan sendirian di kawasan taman kota.

“Setelah saya melambai, ia langsung menyeberang jalan ke arah saya. Kemudian saya beri makan. Setelah siap makan sembari mengucapkan terima kasih ia pergi lagi. Tapi esoknya, ia saya temukan tidur di depan rak nasi tempat saya berjualan. Sehingga setelah makan saya minta dia untuk mandi di Masjid Raya,” ujar Khairiah.

Melihat keakraban itu, beberapa pekerja di warung tersebut kemudian mengait-ngaitkan bahwa itu adalah anak Khairiah yang hilang dalam musibah tsunami. “Tapi saat itu saya bilang, tidak mungkin anak ini hitam dan joroknya minta ampun,” ujar dia sambil tertawa lebar. Akbar alias Irfan yang mendengar cerita itu juga ikut tertawa lebar.

Setelah itu, berdasarkan saran dari seorang pekerja di warung tersebut, Khairiah mencoba melihat punggung si bocah tersebut. “Masya Allah, saya kaget ketika melihat ada tanda lahir di punggungnya. Namun saya masih juga tidak yakin, karena ini sudah lama sekali,” ujarnya. Khairiah pun kemudian menawarkan si bocah untuk tinggal di rumahnya. “Saat saya memandikan dia dan menggosok-gosok punggungnya dengan lulur, seakan timbul perasaan yang luar biasa. Seakan seperti enam tahun lalu, sebelum tsunami. Saya langsung melihat bagian bawah lututnya, ternyata di sana juga ada tahi lalat seperti yang dimiliki anak saya. Sejak itu saya semakin yakin bahwa ini adalah anak saya,” ujarnya.

Pun demikian Khairiah tetap membiarkan si anak bermain-main bersamanya saat berjualan. “Saya tidak mau menahannya. Bahkan pada siang hari saya suruh mandi dia di kompleks Masjid Raya Baiturrahman. Kalau memang dia lari, berati bukan anak saya. Tapi dia selalu pulang,” ujarnya. Setelah beberapa hari tinggal bersamanya, pada Kamis (1/4), Khairiah pun memboyong si bocah pulang ke kampung orang tuanya di Desa Meunasah Raya Gampong Aree, Kecamatan Delima. Kesaksian warga setempat semakin meyakinkan Khairiah bahwa itu memang anaknya.

Setelah satu hari berada di kampungnya, Jumat (2/4), atas saran tokoh desa, Khairiah ditemani keluarganya melaporkan perihal tersebut kepada aparat Polsek Kecamatan Delima. “Sehingga jika ada pihak-pihak yang mengklaim anak ini sebagai anak dia, saya siap harus berurusan secara hukum. Kalau memang perlu sama-sama melakukan tes DNA. Saya hanya bermaksud melindungi dia. Kalau hasil DNA menyatakan dia bukan anak saya, apa boleh buat,” ujarnya mantap.

Iqbal dan Ramli, tokoh Meunasah Raya Gampong Aree menyatakan, jika hasil tes DNA menyatakan bahwa itu benar-benar anak Khairiah, maka ini bisa menjadi contoh kasus bagi orang tua lainnya yang kehilangan anak dalam musibah tsunami 2004. “Bisa saja masih banyak anak-anak yang jadi gelandangan dan dimanfaatkan oleh mafia, atau telah dijual ke luar daerah. Saya pikir pemerintah perlu memfasilitasi Khairiah untuk melakukan tes DNA,” ujar Iqbal. (zainal arifin m nur)

3 April 2010, 13:39 Polisi tak Serahkan Tersangka Sidang Kasus Mesum Mantan Ketua Panwaslu Terkendala Subulussalam

SINGKIL – Warga Kota Subulussalam dan Aceh Singkil, kembali mempertanyakan proses hukum perbuatan mesum mantan Ketua Panwaslu Subulussalam, EH bersama pasangan wanitanya Mer yang tertangkap warga di Jalan Syech Abdurrauf, Simpang Kiri, bulan Mei 2009 lalu. Menurut warga, proses hukum kasus mesum tersebut seolah hilang begitu saja, padahal perbuatan terlarang dua insan non muhrim yang telah mencoreng marwah daerah itu sudah berjalan hampir setahun.

Kepala Kejaksaan Negeri Singkil, Yuswadi, melalui Kasipidum Sapta Poetra, yang dikonfirmasi Serambi dua hari lalu mengatakan, berkas perkara EH dan Mer sudah lengkap atau dinyatakan P21 tinggal menunggu disidangkan oleh jaksa. Akan tetapi pihaknya tidak bisa menyidangkan, karena penyidik kepolisian belum menyerahkan kedua tersangka dan barang bukti (BB) yang seharusnya diserahkan bersamaan dengan penyerahan berkas itu. Menurut Sapta, pihaknya telah dua kali mengirim surat ditujukan kepada penyidik kepolisian yang menangani perkara EH dan Mer, agar segera menyerahkan kedua tersangka dan barang bukti. Surat dimaksud masing-masing, tanggal 04 September 2009, No: B-683/N.1.25/Ep.1/09/2009, perihal pemberitahuan hasil penyidikan perkara EH dan Mer. Kemudian surat tertanggal 19 Oktober 2009, No:B-762/N.1.25/Ep.1/10/2009. “Isi surat antara lain hasil penyelidikan sudah lengkap, namun saat ini tanggungjawab atas tersangka dan barang bukti belum diserahkan pada kami (penyerahan berkas perkara tahap dua),” kata Sapta.

Sebagaimana diberitakan, perbuatan mesum EH dengan Mer, tertangkap warga Jumat pertengahan Mei 2009 lalu. Kejadian itu, sangat menggemparkan warga Subulussalam dan Aceh Singkil. Pasalnya EH selain dikenal sebagai ketua Panwaslu, juga merupakan pemuka agama yang sering menyampaikan ceramah agama. Kedua insan yang sama-sama sudah berkeluarga ini digerebek warga, di rumah pasangan wanita beranak dua itu, tepatnya di jalan Syekh Abdurrauf, Kecamatan Simpang Kiri, Kota Subulussalam. Dalam peristwa itu massa sempat menghakimi EH hingga babak belur, beruntung personil Wilayatul Hisbah (WH) cepat mengevakuasi EH dalam keadaan luka serius ke Puskesmas Penanggalan.(c39/kh)

Akses m.serambinews.com dimana saja melalui browser ponsel Anda.

BAB 3 SISTEM PERIODIK UNSUR

A. PERKEMBANGAN SISTEM PERIODIK UNSUR
( Pelajari Buku Paket Kimia 1A halaman 58 sampai 87! )

1). Pengelompokan atas dasar Logam dan Non Logam
 Dikemukakan oleh Lavoisier
 Pengelompokan ini masih sangat sederhana, sebab antara unsur-unsur logam sendiri masih terdapat banyak perbedaan.

2). Hukum Triade Dobereiner
 Dikemukakan oleh Johan Wolfgang Dobereiner (Jerman).
 Unsur-unsur dikelompokkan ke dalam kelompok tiga unsur yang disebut Triade.
 Dasarnya : kemiripan sifat fisika dan kimia dari unsur-unsur tersebut.
Jenis Triade :
a. Triade Litium (Li), Natrium (Na) dan Kalium (K)
Unsur Massa Atom Wujud
Li 6,94 Padat
Na 22,99 Padat
K 39,10 Padat

Massa Atom Na (Ar Na) = = 23,02
b. Triade Kalsium ( Ca ), Stronsium ( Sr ) dan Barium ( Ba )
c. Triade Klor ( Cl ), Brom ( Br ) dan Iod ( I )

3). Hukum Oktaf Newlands
 Dikemukakan oleh John Newlands (Inggris).
 Unsur-unsur dikelompokkan berdasarkan kenaikan massa atom relatifnya (Ar).
 Unsur ke-8 memiliki sifat kimia mirip dengan unsur pertama; unsur ke-9 memiliki sifat yang mirip dengan unsur ke-2 dst.
 Sifat-sifat unsur yang ditemukan berkala atau periodik setelah 8 unsur disebut Hukum Oktaf.
H Li Be B C N O
F Na Mg Al Si P S
Cl K Ca Cr Ti Mn Fe
Berdasarkan Daftar Oktaf Newlands di atas; unsur H, F dan Cl mempunyai kemiripan sifat.

4). Sistem Periodik Mendeleev (Sistem Periodik Pendek)
 Dua ahli kimia, Lothar Meyer (Jerman) dan Dmitri Ivanovich Mendeleev (Rusia) berdasarkan pada prinsip dari Newlands, melakukan penggolongan unsur.
 Lothar Meyer lebih mengutamakan sifat-sifat kimia unsur sedangkan Mendeleev lebih mengutamakan kenaikan massa atom.
 Menurut Mendeleev : sifat-sifat unsur adalah fungsi periodik dari massa atom relatifnya. Artinya : jika unsur-unsur disusun menurut kenaikan massa atom relatifnya, maka sifat tertentu akan berulang secara periodik.
 Unsur-unsur yang memiliki sifat-sifat serupa ditempatkan pada satu lajur tegak, disebut Golongan.
 Sedangkan lajur horizontal, untuk unsur-unsur berdasarkan pada kenaikan massa atom relatifnya dan disebut Periode.

5). Sistem Periodik Modern (Sistem Periodik Panjang)
• Dikemukakan oleh Henry G Moseley, yang berpendapat bahwa sifat-sifat unsur merupakan fungsi periodik dari nomor atomnya.
• Artinya : sifat dasar suatu unsur ditentukan oleh nomor atomnya bukan oleh massa atom relatifnya (Ar).


B. PERIODE DAN GOLONGAN DALAM SPU MODERN
1). Periode
o Adalah lajur-lajur horizontal pada tabel periodik.
o SPU Modern terdiri atas 7 periode. Tiap-tiap periode menyatakan jumlah / banyaknya kulit atom unsur-unsur yang menempati periode-periode tersebut.
Jadi :


o Jumlah unsur pada setiap periode :
Periode Jumlah Unsur Nomor Atom ( Z )
1 2 1 – 2
2 8 3 – 10
3 8 11 – 18
4 18 19 – 36
5 18 37 – 54
6 32 55 – 86
7 32 87 – 118

Catatan :
a) Periode 1, 2 dan 3 disebut periode pendek karena berisi relatif sedikit unsur
b) Periode 4 dan seterusnya disebut periode panjang
c) Periode 7 disebut periode belum lengkap karena belum sampai ke golongan VIII A.
d) Untuk mengetahui nomor periode suatu unsur berdasarkan nomor atomnya, Anda hanya perlu mengetahui nomor atom unsur yang memulai setiap periode

o Unsur-unsur yang memiliki 1 kulit (kulit K saja) terletak pada periode 1 (baris 1), unsur-unsur yang memiliki 2 kulit (kulit K dan L) terletak pada periode ke-2 dst.
Contoh :
9F = 2 , 7 periode ke-2
12Mg = 2 , 8 , 2 periode ke-3
31Ga = 2 , 8 , 18 , 3 periode ke-4
2). Golongan
 Sistem periodik terdiri atas 18 kolom vertikal yang disebut golongan
 Ada 2 cara penamaan golongan :
a) Sistem 8 golongan
Menurut cara ini, sistem periodik dibagi menjadi 8 golongan yaitu golongan utama (golongan A) dan 8 golongan transisi (golongan B).
b) Sistem 18 golongan
Menurut cara ini, sistem periodik dibagi menjadi 18 golongan yaitu golongan 1 sampai 18, dimulai dari kolom paling kiri.
 Unsur-unsur yang mempunyai elektron valensi sama ditempatkan pada golongan yang sama.
 Untuk unsur-unsur golongan A sesuai dengan letaknya dalam sistem periodik :


 Unsur-unsur golongan A mempunyai nama lain yaitu :
a. Golongan IA = golongan Alkali
b. Golongan IIA = golongan Alkali Tanah
c. Golongan IIIA = golongan Boron
d. Golongan IVA = golongan Karbon
e. Golongan VA = golongan Nitrogen
f. Golongan VIA = golongan Oksigen
g. Golongan VIIA = golongan Halida / Halogen
h. Golongan VIIIA = golongan Gas Mulia


C. SIFAT-SIFAT PERIODIK UNSUR
Meliputi :
1). Jari-Jari Atom
 Adalah jarak dari inti atom sampai ke elektron di kulit terluar.
 Besarnya jari-jari atom dipengaruhi oleh besarnya nomor atom unsur tersebut.
 Semakin besar nomor atom unsur-unsur segolongan, semakin banyak pula jumlah kulit elektronnya, sehingga semakin besar pula jari-jari atomnya.
Jadi : dalam satu golongan (dari atas ke bawah), jari-jari atomnya semakin besar.
 Dalam satu periode (dari kiri ke kanan), nomor atomnya bertambah yang berarti semakin bertambahnya muatan inti, sedangkan jumlah kulit elektronnya tetap. Akibatnya tarikan inti terhadap elektron terluar makin besar pula, sehingga menyebabkan semakin kecilnya jari-jari atom.
Jadi : dalam satu periode (dari kiri ke kanan), jari-jari atomnya semakin kecil.

2). Jari-Jari Ion
 Ion mempunyai jari-jari yang berbeda secara nyata (signifikan) jika dibandingkan dengan jari-jari atom netralnya.
 Ion bermuatan positif (kation) mempunyai jari-jari yang lebih kecil, sedangkan ion bermuatan negatif (anion) mempunyai jari-jari yang lebih besar jika dibandingkan dengan jari-jari atom netralnya.


3). Energi Ionisasi ( satuannya = kJ.mol-1 )
 Adalah energi minimum yang diperlukan atom netral dalam wujud gas untuk melepaskan satu elektron sehingga membentuk ion bermuatan +1 (kation).
 Jika atom tersebut melepaskan elektronnya yang ke-2 maka akan diperlukan energi yang lebih besar (disebut energi ionisasi kedua), dst.
EI 1 < EI 2 < EI 3 dst
 Dalam satu golongan (dari atas ke bawah), EI semakin kecil karena jari-jari atom bertambah sehingga gaya tarik inti terhadap elektron terluar semakin kecil. Akibatnya elektron terluar semakin mudah untuk dilepaskan.
 Dalam satu periode (dari kiri ke kanan), EI semakin besar karena jari-jari atom semakin kecil sehingga gaya tarik inti terhadap elektron terluar semakin besar/kuat. Akibatnya elektron terluar semakin sulit untuk dilepaskan.

4). Afinitas Elektron ( satuannya = kJ.mol-1 )
o Adalah energi yang dilepaskan atau diserap oleh atom netral dalam wujud gas apabila menerima sebuah elektron untuk membentuk ion negatif (anion).

Beberapa hal yang harus diperhatikan :
a) Penyerapan elektron ada yang disertai pelepasan energi maupun penyerapan energi.
b) Jika penyerapan elektron disertai pelepasan energi, maka harga afinitas elektronnya dinyatakan dengan tanda negatif.
c) Jika penyerapan elektron disertai penyerapan energi, maka harga afinitas elektronnya dinyatakan dengan tanda positif.
d) Unsur yang mempunyai harga afinitas elektron bertanda negatif, mempunyai daya tarik elektron yang lebih besar daripada unsur yang mempunyai harga afinitas elektron bertanda positif. Atau semakin negatif harga afinitas elektron suatu unsur, semakin besar kecenderungan unsur tersebut untuk menarik elektron membentuk ion negatif (anion).

o Semakin negatif harga afinitas elektron, semakin mudah atom tersebut menerima/menarik elektron dan semakin reaktif pula unsurnya.
o Afinitas elektron bukanlah kebalikan dari energi ionisasi.
o Dalam satu golongan (dari atas ke bawah), harga afinitas elektronnya semakin kecil.
o Dalam satu periode (dari kiri ke kanan), harga afinitas elektronnya semakin besar.
o Unsur golongan utama memiliki afinitas elektron bertanda negatif, kecuali golongan IIA dan VIIIA.
o Afinitas elektron terbesar dimiliki golongan VIIA ( halogen ).

5). Keelektronegatifan
• Adalah kemampuan suatu unsur untuk menarik elektron dalam molekul suatu senyawa (dalam ikatannya).
• Diukur dengan menggunakan skala Pauling yang besarnya antara 0,7 (keelektronegatifan Cs) sampai 4 (keelektronegatifan F).
• Unsur yang mempunyai harga keelektronegatifan besar, cenderung menerima elektron dan akan membentuk ion negatif (anion).
• Unsur yang mempunyai harga keelektronegatifan kecil, cenderung melepaskan elektron dan akan membentuk ion positif (kation).
• Dalam satu golongan (dari atas ke bawah), harga keelektronegatifan semakin kecil.
• Dalam satu periode (dari kiri ke kanan), harga keelektronegatifan semakin besar.

6). Sifat Logam dan Non Logam
o Sifat logam dikaitkan dengan keelektropositifan, yaitu kecenderungan atom untuk melepaskan elektron membentuk kation.
o Sifat logam bergantung pada besarnya energi ionisasi ( EI ).
o Makin besar harga EI, makin sulit bagi atom untuk melepaskan elektron dan makin berkurang sifat logamnya.
o Sifat non logam dikaitkan dengan keelektronegatifan, yaitu kecenderungan atom untuk menarik elektron.
o Dalam satu periode (dari kiri ke kanan), sifat logam berkurang sedangkan sifat non logam bertambah.
o Dalam satu golongan (dari atas ke bawah), sifat logam bertambah sedangkan sifat non logam berkurang.
o Unsur logam terletak pada bagian kiri-bawah dalam sistem periodik unsur, sedangkan unsur non logam terletak pada bagian kanan-atas.
o Unsur yang paling bersifat non logam adalah unsur-unsur yang terletak pada golongan VIIA, bukan golongan VIIIA.
o Unsur-unsur yang terletak pada daerah peralihan antara unsur logam dengan non logam disebut unsur Metaloid ( = unsur yang mempunyai sifat logam dan sekaligus non logam ). Misalnya : boron dan silikon.

7). Kereaktifan
 Kereaktifan bergantung pada kecenderungan unsur untuk melepas atau menarik elektron.
 Unsur logam yang paling reaktif adalah golongan IA (logam alkali).
 Unsur non logam yang paling reaktif adalah golongan VIIA (halogen).
 Dalam satu periode (dari kiri ke kanan), mula-mula kereaktifan menurun, kemudian semakin bertambah hingga golongan VIIA.
 Golongan VIIIA merupakan unsur yang paling tidak reaktif.

LAPORAN PRAKTIKUM EVALUASI GIZI DALAM PENGOLAHAN (EGDP)

PENGARUH PENGOLAHAN TERHADAP KECERNAAN ATAU DIGESTIBILITAS PROTEIN








Disusun oleh :
Kelompok 4
Nama : Rr. Wirastuti (07625)
Apriadi Panca N.J. (07774)
Yaniek Amanati P. (07962)
Sitirahayu (08008)
Rr. Pramilih Wahyu N. (08010)
Notiana W. (08052)
Dyah Ayu (08066)
Hari/ Tgl : Rabu-Kamis, Maret 2006
Assisten : Novi Akhsani



JURUSAN TEKNOLOGI PANGAN DAN HASIL PERTANIAN
FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2006
I. TUJUAN PERCOBAAN
Mengetahui pengaruh pengolahan terhadap kecernaan (digestibilitas) protein secara in vitro menggunakan enzim pepsin pada telur asin mentah dan telur asin matang.

II. TINJAUAN PUSTAKA
A. Dasar Teori
protein merupakan suatu zat makanan yang sangat penting bagi tubuh karena zat ini berfungsi sebagai sumber energi dalam tubuh serta sebagai zat pembangun dn pengatur. Protein adlaah polimer dari asam amino yang dihubungkan dengan ikatan peptida. Molekul protein mengandung unsur-umsur C, H, O, N, P, S, dan terkadang mengandung unsur logam seperti besi dan tembaga (Winarno, 1992).
Protein merupakan suatu polipeptida dengan BM yang sangat bervariasi dari 5000 samapi lebih dari satu juta karena molekul protein yang besar, protein sangat mudah mengalami perubahan fisis dan aktivitas biologisnya. Banyak agensia yang menyebabkan perubahan sifat alamiah dari protein seperti panas, asam, basa, solven organik, garam, logam berat, radiasi sinar radioaktif (Sudarmadji, 1996).
Struktur asam amino digambarkan sebagai berikut:
H

H2N C COOH

R
(Lehninger, 1995).
Apabila asam amino larut dalam air, gugus karboksilat akan melepaskan ion H+, sedangkan gugus amina akan menerima ion H+, seperti reaksi berikut:

Oleh adanya kedua gugus tersebut asam amino dalam larutan dapat membentuk ion yang bermuatan positif dan juga bermuatan negatif atau disebut juga ion amfoter (zwitterion). Keadaan ion ini sangat tergantung pada pH larutan. Apabila asam amino dalam air ditambah dengan basa, maka asam amino akan terdapat dalam bentuk (I) karena konsentrasi ion OH- yang tinggi mampu mengikat ion-ion H+ pada gugus –NH3+. Sebaliknya bila ditambahkan asam ke dalam larutan asam amino, maka konsentrasi ion H+ yang tinggi mampu berikatan dengan ion –COO- sehingga terbentuk gugus –COOH sehingga asam amino akan terdapat dalam bentuk (II) (Anna Poedjiadi, 1994).

Dalam suatu sistem elektroforesis yang memiliki elektroda positif dan negatif, asam amino akan bergerak menuju elektroda yang berlawanan dengan muatan asam amino yang terdapat dalam larutan. Apabila ion asam amino tidak bergerak ke arah negatif maupun positif dalam suatu sistem elektroforesis maka pH pada saat itu disebut pH isolistrik. Pada pH tersebut terdapat keseimbangan antara bentuk-bentuk asam amino sebagai ion amfoter, anion dan kation (Anna Poedjiadi, 1994).
Gugus karboksil pada asam amino dapat dilepas dengan proses dekarboksilasi dan menghasilkan suatu amina. Gugus amino pada asam amino dapat bereaksi dengan asam nitrit dan melepaskan gas nitrogen yang dapat diukur volumenya. Van Slyke menggunakan reaksi ini untuk menentukan gugus amino bebas pada asam amino, peptida maupun protein. (Anna Poedjiadi, 1994).
Pada dasarnya suatu peptida adalah asil-asam amino, karena gugus –COOH dan –NH2 membentuk ikatan peptida. Peptida didapatkan dari hidrolisis protein yang tidak sempurna. Apabila peptida yang dihasilkan dihidrolisis lebih lanjut akan dihasilkan asam-asam amino. (Anna Poedjiadi, 1994).

Sifat peptida ditentukan oleh gugus –COOH, –NH2 dan gugus R. Sifat asam dan basa pada peptida ditentukan oleh gugus –COOH dan –NH2 , namun pada rantai panjang gugus –COOH dan –NH2 yang terletak diujung rantai tidak lagi berpengaruh. Suatu peptida juga mempunyai titik isolistrik seperti pada asam amino. Reaksi biuret merupakan reaksi warna untuk peptida dan protein. (Anna Poedjiadi, 1994).
Struktur protein dapat dibagi menjadi empat bentuk; primer, sekunder, tersier dan kuartener. Susunan linier asam amino dalam protein merupakan struktur primer. Susunan tersebut akan menentukan sifat dasar protein dan bentuk struktur sekunder serta tersier. Bila protein menandung banyak asam amino dengan gugus hidrofobik, daya kelarutannya kurang dalam air dibandingkan dengan protein yang banyak mengandung asam amino dengan gugus hidrofil. (Winarno, 1992).
Protein yang terdapat dalam bahan pangan mudah mengalami perubahan-perubahan, antara lain:
1. Dapat terdenaturasi oleh perlakuan pemanasan.
2. Dapat terkoagulasi atau mengendap oleh perlakuan pengasaman.
3. Dapat mengalami dekomposisi atau pemecahan oleh enzim-enzim proteolitik.
4. Dapat bereaksi dengan gula reduksi, sehingga menyebabkan terjadinya warna coklat.
Denaturasi protein dapat diartikan suatu perubahan atau modifikasi terhdap struktur sekunder, tersier dan kuartener molekul protein tanpa terjadinya pemecahan ikatan-ikatan kovalen. Karena itu denaturasi dapat diartikan suatu proses terpecahnya ikatan hidrogen, interaksi hidrofobik, ikatan garam dan terbukanya lipatan atau wiru molekul protein. (Winarno, 1992).


Denaturasi protein
Denaturasi protein dapat diartikan suatu perubahan atau modifikasi terhadap struktur sekunder, tertier dan kuartener molekul protein tanpa terjadinya pemecahan ikatan-ikatan kovelen. Karena itu, denaturasi dapat diartikan suatu proses terpecahnya ikatan hydrogen, interaksi hidrofobik, ikatan garam dan aterbukanya lipatan atau wiru molekul protein (Winarno, 1992).
Protein yang terdenaturasi akan berkurang kelarutannya. Lapisan molekul bagian dalam yang ersifat hidrofobik akan keluar sedangkan bagian hidrofilik akan terlipat ke dalam. Pelipatan atau pembakikkan akan terjadi bila protein mendekati pH isoelektris lalu protein akan menggumpal dan mengendap. Viskositas akan bertambah karena molekul mengembang menjadi asimetrik, sudut putaran optis larutan protein juga akan meningkat (Winarno, 1992).
Denaturasi protein meliputi gangguan dan kerusakan yang mungkin terjadi pada struktur sekunder dan tersier protein. Sejak diketahui reaksi denaturasi tidak cukup kuat untuk memutuskan ikatan peptida, dimana struktur primer protein tetap sama setelah proses denaturasi. Denaturasi terjadi karena adanya gangguan pada struktur sekunder dan tersier protein. Pada struktur protein tersier terdapat empat jenis interaksi yang membentuk ikatan pada rantai samping seperti; ikatan hidrogen, jembatan garam, ikatan disulfida dan interaksi hidrofobik non polar, yang kemungkinan mengalami gangguan. Denaturasi yang umum ditemui adalah proses presipitasi dan koagulasi protein (Ophart, C.E., 2003).

(Ophart, C.E., 2003).

Denaturasi karena Panas:
Panas dapat digunakan untuk mengacaukan ikatan hidrogen dan interaksi hidrofobik non polar. Hal ini terjadi karena suhu tinggi dapat meningkatkan energi kinetik dan menyebabkan molekul penyusun protein bergerak atau bergetar sangat cepat sehingga mengacaukan ikatan molekul tersebut. Protein telur mengalami denaturasi dan terkoagulasi selama pemasakan. Beberapa makanan dimasak untuk mendenaturasi protein yang dikandung supaya memudahkan enzim pencernaan dalam mencerna protein tersebut (Ophart, C.E., 2003).
Pemanasan akan membuat protein bahan terdenaturasi sehingga kemampuan mengikat airnya menurun. Hal ini terjadi karena energi panas akan mengakibatkan terputusnya interaksi non-kovalen yang ada pada struktur alami protein tapi tidak memutuskan ikatan kovalennya yang berupa ikatan peptida. Proses ini biasanya berlangsung pada kisaran suhu yang sempit (Ophart, C.E., 2003).
Alkohol dapat merusak ikatan hidrogen:
Ikatan hidrogen terjadi antara gugus amida dalam struktur sekunder protein. Ikatan hidrogen antar rantai samping terjadi dalam struktur tersier protein dengan kombinasi berbagai asam amino penyusunnya (Ophart, C.E., 2003).

(Ophart, C.E., 2003)
Denaturasi karena Asam dan basa:
Protein akan mengalami kekeruhan terbesar pada saat mencapai ph isoelektris yaitu ph dimana protein memiliki muatan positif dan negatif yang sama, pada saat inilah protein mengalami denaturasi yang ditandai kekeruhan meningkat dan timbulnya gumpalan. (Anna, P., 1994). Asam dan basa dapat mengacaukan jembatan garam dengan adanya muatan ionik. Sebuah tipe reaksi penggantian dobel terjadi sewaktu ion positif dan negatif di dalam garam berganti pasangan dengan ion positif dan negatif yang berasal dari asam atau basa yang ditambahkan. Reaksi ini terjadi di dalam sistem pencernaan, saat asam lambung mengkoagulasi susu yang dikonsumsi (Ophart, C.E., 2003).

(Ophart, C.E., 2003)
Denaturasi karena Garam logam berat:
Garam logam berat mendenaturasi protein sama dengan halnya asam dan basa. Garam logam berat umumnya mengandung Hg+2, Pb+2, Ag+1 Tl+1, Cd+2 dan logam lainnya dengan berat atom yang besar. Reaksi yang terjadi antara garam logam berat akan mengakibatkan terbentuknya garam protein-logam yang tidak larut (Ophart, C.E., 2003).
Protein akan mengalami presipitasi bila bereaksi dengan ion logam. Pengendapan oleh ion positif (logam) diperlukan ph larutan diatas pi karena protein bermuatan negatif, pengendapan oleh ion negatif diperlukan ph larutan dibawah pi karena protein bermuatan positif. Ion-ion positif yang dapat mengendapkan protein adalah; Ag+, Ca++, Zn++, Hg++, Fe++, Cu++ dan Pb++, sedangkan ion-ion negatif yang dapat mengendapkan protein adalah; ion salisilat, triklorasetat, piktrat, tanat dan sulfosalisilat. (Anna, P., 1994).
Garam logam berat merusak ikatan disulfida:
Logam berat juga merusak ikatan disulfida karena affinitasnya yang tinggi dan kemampuannya untuk menarik sulfur sehingga mengakibatkan denaturasi protein (Ophart, C.E., 2003).
Agen pereduksi merusak ikatan disulfida:
Ikatan disulfida terbentuk dengan adanya oksidasi gugus sulfhidril pada sistein. Antara rantai protein yang berbeda yang sama-sama memiliki gugus sulfhidril akan membentuk ikatan disulfida kovalen yang sangat kuat. Agen pereduksi dapat memutuskan ikatan disulfida, dimana penambahan atom hidrogen sehingga membentuk gugus tiol; -SH (Ophart, C.E., 2003).

(Ophart, C.E., 2003)
Protein yang terdenaturasi akan berkurang kelarutannya. Lapisan molekul protein bagian dalam yang bersifat hidrofobik akan keluar, sedangkan bagian yang hidrofilik akan terlipat ke dalam. Pelipatan atau pembalikkan terjadi bila larutan protein mendekati pH isoelektris, lalu protein akan menggumpal dan mengendap. Viskositas akan bertambah karena molekul mengembang dan menjadi asimetrik, sudut putaran optis larutan protein juga akan meningkat. Denaturasi protein dapat disebabkan oleh panas, pH, bahan kimia, mekanik dan lain-lain. (Winarno, 1992).
Protein akan mengalami presipitasi bila bereaksi dengan ion logam. Pengendapan oleh ion positif (logam) diperlukan ph larutan diatas pi karena protein bermuatan negatif, pengendapan oleh ion negatif diperlukan ph larutan dibawah pi karena protein bermuatan positif. Ion-ion positif yang dapat mengendapkan protein adalah; Ag+, Ca++, Zn++, Hg++, Fe++, Cu++ dan Pb++, sedangkan ion-ion negatif yang dapat mengendapkan protein adalah; ion salisilat, triklorasetat, piktrat, tanat dan sulfosalisilat. (Anna, P., 1994).
Protein akan mengalami kekeruhan terbesar pada saat mencapai ph isoelektris yaitu pH dimana protein memiliki muatan positif dan negatif yang sama, pada saat inilah protein mengalami denaturasi yang ditandai kekeruhan meningkat dan timbulnya gumpalan. (Anna, P., 1994).
Pada umumnya kadar protein di dalam bahan pangan menentukan mutu bahan pangan itu sendiri (S.A. & Suwedo H. ,1987). Nilai gizi dari suatu bahan pangan ditentukan bukan saja oleh kadar nutrien yang dikandungnya, tetapi juga oleh dapat tidaknya nutrien tersebut digunakan oleh tubuh (Muchtadi, 1989). Salah satu parameter nilai gizi protein adalah daya cernanya yang didefinisikan sebagai efektivitas absorbsi protein oleh tubuh (Del Valle, 1981). Berdasarkan kandungan asam-asan amino esensialnya, bahan pangan dapat dinilai apakah bergizi tinggi atau tidak. Bahan pangan bernilai gizi tinggi apabila mengandung asam amino esensial yang lengkap serta susunannya sesuai dengan kebutuhan tubuh.
Protein yang mudah dicerna menunjukkan tingginya jumlah asam-asam amino yang dapat diserap oleh tubuh dan begitu juga sebaliknya. Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi daya cerna protein dalam tubuh adalah kondisi fisik dan kimia bahan. Makin keras bahan, maka akan menurunkan daya cernanya dalam tubuh karena adanya ikatan kompleks yang terdapat di dalam bahan yang sifatnya semakin kuat. Ikatan ini dapat berupa ikatan antar molekul protein, ikatan protein- fitat, dan sebaginya. Sedangkan kondisi kimia yaitu adanya senyawa anti gizi seperti tripsin inhibitor dan fitat (Muchtadi, 1989).
Untuk menentukan kualitas protein dalam bahan makanan dapat dilakukan secara in vitro, yaitu metode penentuan kulaitas protein secara khemis berdasarkan pada pemecahan protein oleh enzim proteolitik seperti pepsin, tripsin, khimotripsin, dan aminopeptidase (Narasinga, 1978). Analisis ini memberikan gambaran berlangsungnya proses pencernaan protein di lambung dan usus.
Enzim yang biasa digunakan dalam percobaan adalah enzim pepsin yang merupakan golongan dari enzim endopeptidase, yang dapat menghidrolisis ikatan-ikatan peptida pada bagian tengah sepanjang rantai polipeptida dan bekerja optimum pada pH 2 dan stabil pada pH 2-5. Enzim ini dihasilkan dalam bentuk pepsinogen yang yang belum aktif di dalam getah lambung. Pepsin berada dalam keadaan inaktif sempurna pada keadaan netral dan alkalis. Enzim ini bekerja dengan memecah protein menjadi proteosa dan pepton (Del valle, 1981).
Analisis protein secara in vitro terbagi atas dua metode. Metode pertama adalah pepsin digest residue index (PDR) menggunakan enzim pepsin sebagai penghidrolisis sampel protein. Sedangkan metode kedua adalah pepsin pancreatin digest index yang menggunakan dua macam enzim yaitu pepsin dan pancreatin. Pada kedua metode tersebut dibandingkan jumlah nitrogen pada sampel dan pada residu sampel setelah dilakukan hidrolisis oleh enzim.
Peneraan jumlah protein dilakukan dengan menentukan jumlah nitrogen yang dikandung oleh suatu bahan. N total bahan diukur dengan menggunakan metode mikro-Kjeldahl. Prinsip dari metode ini adalah oksidasi senyawa organik oleh asam sulfat untuk membentuk CO2 dan H2O serta pelepasan nitrogen dalam bentuk ammonia yaitu penentuan protein berdasarkan jumlah N. Dalam penentuan protein seharusnya hanya nitrogen yang berasal dari protein saja yang ditentukan. Akan tetapi teknik ini sulit sekali dilakukan mengingat kandungan senyawaan N lain selain protein dalam bahan juga terikut dalam analisis ini. Jumlah senyawaan N ini biasanya sangat kecil yang meliputi urea, asam nukleat, ammonia, nitrat, nitrit, asam amino, amida, purin, dan pirimidin. Oleh karena itu penentuan jumlah N total ini tetap dilakukan untuk mewakili jumlah protein yang ada. Kadar protein yang ditentukan dengan cara ini biasa disebut sebagai protein kadar/crude protein (Sudarmadji, 1996). Analisa protein cara kjeldahl pada dasarnya dibagi menjadi tiga tahapan yaitu proses destruksi, destilasi dan titrasi.
Penentuan kandungan air dalam bahan makanan dapat dilakukan dengan berbagai cara, dimana hal ini tergantung dari sifat bahannya. Dalam percobaan, analisa kadar air ditentukan dengan metode pengeringan (Thermogravimetri). Prinsipnya adalah menguapkan air yang ada dalam bahan dengan jalan pemanasan, kemudian menimbang bahan tersebut sampai berat konstan yang berarti semua air sudah diuapkan. Cara ini relatif mudah dan murah, akan tetapi memiliki berbagai kelemahan. Diantaranya ialah:
 Bahan lain selain air juga ikut menguap dan ikut hilang bersama dengan uap. Misalnya alcohol, asam asetat, minyak aksim, dll.
 Dapat terjadi reaksi selama pemanasan yang menghasilkan air atau zat mudah menguap lain. Contoh: gula mengalami dekomposisi atau karamelisasi, lemak mengalami oksidasi, dsb.
 Bahan yang mengandung bahan yang mengikat air secara kuat sekali melepaskan airnya meskipun sudah dipanaskan.
(Sudarmadji, 1996).

B. Tinjauan Bahan
1. Telur Itik
Bobot dan ukuran telur itik rata-rata lebih besar dibandingkan dengan telur ayam. warna kulit telurnya agak biru muda. karena bau amisnya yang tajam, penggunaan telur itik dalam berbagai makanan tidak seluas telur ayam. Selain baunya yang lebih amis, telur itik juga mempunyai pori-pori yang lebih besar, sehingga sangat baik untuk diolah menjadi telur asin (Anonim, 20054).

2. Telur Asin
Telur adalah salah satu sumber protein hewani yang memiliki rasa yang lezat, mudah dicerna, dan bergizi tinggi. Telur terdiri dari protein 13 %, lemak 12 %, serta vitamin, dan mineral. Nilai tertinggi telur terdapat pada bagian kuningnya. Kuning telur mengandung asam amino esensial yang dibutuhkan serta mineral seperti : besi, fosfor, sedikit kalsium, dan vitamin B kompleks. Adapun putih telur yang jumlahnya sekitar 60 % dari seluruh bulatan telur mengandung 5 jenis protein dan sedikit karbohidrat (Anonim, 20061).
Telur asin adalah telur utuh yang diawetkan dengan adonan yang dibubuhi garam. Ada 3 cara pembuatan telur asin yaitu (Anonim, 20062):
a. Telur asin dengan adonan garam berbentuk padat atau kering;
b. Telur asin dengan adonan garam ditambah ekstrak daun teh;
c. Telur asin dengan adonan garam, dan kemudian direndam dalam ekstrak atau cairan teh.
Adapun diagram alir pembuatan telur asin adalah:

(Anonim, 20062)
Dibanding telur segar mutu protein telur asin sudah agak menurun. Garam telah menggumpalkan proteinnya, sehingga penyerapannya di dalam tubuh tidak semudah penyerapan protein telur segar. Perbedaan ini dapat diamati dari konsistensi bagian kuning pada telur asin lebih keras daripada bagian kuning telur segar. Penurunan nutrisi yang terjadi selama penggaraman hanyalah pada kandungan betakarotennya yang cukup nyata. Dari 1.230 IU betakaroten pada telur segar, hanya tinggal 841 IU saja setelah diasinkan. Sebaliknya, telur seribu tahun (telur hitam) banyak sekali mengalami kerusakan komposisi protein dan betakaroten. Satu-satunya nutrisi yang potensial hanyalah kalsium, karena kandungannya meningkat tajam dibanding telur segar. Nutrisi lain yang meningkat akibat pengasinan telur adalah kalsium. Hal ini tentu menguntungkan, karena kalsium sangat diperlukan dalam pembentukan tulang yang kuat. Penambahan kalsum ini berasal dari penyerapan mineral dari media pembalut telur selama penggaraman, terutama dari bata merah atau abu sekam. Kandungan kalsium meningkat 2,5 kali setelah pengasinan (Anonim, 20054).
Komposisi kimia telur segar dan telur asin:
Komposisi Telur ayam Telur bebek segar Telur bebek asin
Kalori (kal) 162 189 195
Protein (gr) 12,8 13,1 13,6
Lemak (gr) 11,5 14,3 13,6
Hidrat arang (gr) 0,7 0,8 1,4
Kalsium (mg) 54 56 120
Fosfor (mg) 180 175 157
Besi (mg) 2,7 2,8 1,8
Vit. A (SI) 900 1230 841
Vit. B-1 (mg) 0,10 0,18 0,28
Vit.C (mg) 0 0 0
Air (gr) 74 70,8 66,5
b.d.d (%) 90 90 83
(Anonim, 20062)

3. Enzim pepsin.
Pepsin adalah enzim yang terdapat dalam perut yang akan mulai mencerna protein dengan memecah protein menjadi bagian–bagian yang lebih kecil. Enzim ini termasuk protease; pepsin disekresi dalam bentuk inaktif, pepsinogen, yang akan diaktifkan oeh asam lambung. Enzim ini diproduksi oleh bagian mukosa dalam perut yang berfungsi untuk mendegradasi protein (Anonim, 20063).
Enzim ini memiliki pH optimum 2-4 dan akan inaktif pada pH diatas 6. Pepsin adalah salah satu dari 3 enzim yang berfungsi untuk mendegradasi protein yang lain adalah kemotripsin dan tripsin. Pepsin disintesa dalam bentuk inaktif oleh lambung; asam hidroklori; juga diproduksi oleh gastric mucosa dan kemudian akan diaktifkan pada pH optimum yaitu 1-3 (Anonim, 20063).


4. Buffer Walphole 0.2 N
Dalam analisa kecernaan protein, larutan buffer Walphone 0,2 N pH 2 digunakan untuk mendapatkan kondisi optimum bagi aktivitas enzim pepsin sehingga enzim akan bekerja dengan baik mengkatalisis hidrolisis protein pada sampel.

5. TCA 20%
Fungsi TCA adalah untuk menghentikan jalannya reaksi hidrolisis dengan cara mendenaturasi enzim karena sifat TCA adalah asam. Reagen ini menghentikan reaksi enzimatis karena sifatnya yang asam sehingga enzim menjadi inaktif dan kehilanagan fungsi katalitiknya.
























III. METODOLOGI PERCOBAAN
A. Alat
• Labu takar 100 mL Pipet ukur
• Labu Kjeldahl Pipet tetes
• Kertas saring Spatula
• Kompor Lisrik Timbangan analitik
• Destilator Tabung reaksi + rak
• Buret +statif Propipet
• Erlenmeyer Sentrifuge
• Ruang asam Kertas Whatman no.41
• Gelas beker Waterbath Bergoyang
•
B. Bahan
• Telur asin mentah
• Telur asin matang
• K2SO4 : HgO (20:1)
• H2SO4 pekat
• Aquades
• NaOH-Na2S2O3
• Asam Borat 4%
• Indikator BCG-MR
• HCl 0,02 N
• Buffer Whalphole 0,2 N pH 2
• NaOH 0,1 N
• Enzim Pepsin 2%
• TCA (Tri Chloro Acetate) 20%







C. Cara Kerja
1. Standardisasi Na Tetra borat
0.05 mg Na-tetra borat







Perhitungan standardisasi HCl :
N HCl = 2 x berat tetra-borat (mg)
BM tetra-borat x ml titrasi
= 2 x 50 mg
282,38 x 13,1ml
= 100
4271.456
= 0.0200 N

2. Analisa N total Sampel dengan Metode Mikro Kjeldahl
100 mg sampel telur asin mentah dan telur asin

Ditambah campuran K2SO4 : HgO (20:1) 0,5-1 gram

Dibungkus dengan kertas saring

Dimasukkan dalam Labu Kjeldahl

Ditambah larutan H2SO4 pekat 3 mL

Destruksi di ruang asam hingga jernih









Ditambah 10 mL aquades

Dididihkan dan dibilas dengan aquades

Destilasi 15 mL NaOH-Na Thio

Destilat ditampung dalam erlenmeyer berisi
5 mL Asam Borat 4% dan 4 tetes BCG-MR

Destilat dititrasi dengan HCl 0,0234 N


3. Analisa Kecernaan Protein Secara In- Vitro (Tanaka, 1979 dalam Marsono, 1988)

Sampel Telur asin mentah dan matang Analisa N total
Bahan

Diambil 200 mg

Dilarutkan dalam 9 mL Buffer Walphole 0,2 N pH 2

Ditambah 1 mL enzim pepsin 2%

Diinkubasi dalam waterbath bergoyang selama 1,5 jam

Disentrifuse pada 3000 rpm selama 20 menit





Diambil supernatan, masukkan dalam tabung reaksi

Ditambah 5 mL TCA 20%, diamkan selama 1,5 jam

Saring dengan Whatman no.41 Endapan

Filtrat

Analisa N Total Filtrat

4. Penentuan kadar air
botol timbang



















IV. PEMBAHASAN
Penentuan Kadar Air
Bahan Kadar Air
% wb % db
Telur bebek mentah tawar 69,4620 227,4638
Telur bebek mentah asin 64,5810 182,4941

Dalam percoban ini digunakan sample bahan telur bebek mentah tawar dan Telur bebek mentah asin. Percobaan ini menggunakan metode pengeringan atau secara thermogravimetri. Adapun prinsip dari metode ini adalah menguapkan air dalam bahan dengan jalan pemanasan kemudian menimbang berat bahan hingga didapatkan berat yang konstan, yang berarti semua air telah diuapkan.
Langkah pertama yang dilakukan dalam percobaan ini adalah dengan mengoven botol terlebih dahulu selama 1jam pada suhu 105oC dengan tujuan menguapkan air yang berada didalam maupun diluar dinding botol sehingga didapat berat botol yang bebas air. Selain itu juga bertujuan untuk menyesuaikan suhu pada botol timbang dengan suhu pada oven mengingat hal ini sangat menetukan dalam perhitungan kadar air sample. Penggunaan suhu 105oC adalah karena pada suhu ini semua air telah menguap yaitu 5o di atas titik didih air. Selain itu, pada suhu ini belum terjadi perubahan-perubahn sifat pada bahan seperti terjadinya karamelisasi pada gula, oksidasi pada lemak, oksidasi pada protein, dsb.
Setelah dikeringkan, botol timbang bersifat higroskopis atau mudah menyerap uap air. Oleh karena itu, sebelum ditimbang dan diberi sample bahan, botol diletakkan dalam eksikator yang didalamnya terdapat zat yang mampu menyerap air yaitu berupa silica gel. Silica gel yang digunakan, sering diberi warna agar memudahkan apakah bahan tersebut sudah jenuh dengan air atau belum.
Setelah sample bahan didinginkan dalam eksikator, dilakukan penimbangan sample dan botol dioven kembali pada temperature yang sama kurang lebih sekitar 2-3jam. Tujuan dari pengovenan ini adalah untuk menguapkan air yang terkandung dalam sample bahan baik itu air bebas maupun air yang terikat lemah dapat teruapkan semua. Akan tetapi, air yang terikat kuat sulit diuapkan Karena membentuk hidrat dengan molekul organic lainnya melalui ikatan ionic.
Setelah pengovenan selasai, bahan bersama dengan botol timbang dimasukkan kedalam eksikator. Hal ini bertujuan untuk mendinginkan bahan dan botol timbang yang baru saja di oven agar tidak menyerap air dari udara bebas. Langkah selanjutnya adalah sample dan botol timbang di timbang menggunakan neraca analit hingga diperoleh berat konstan. Barat konstan ini dicapai bila perbedaan penimbangan yang satu dengan penimbangan selanjutnya memiliki selisih tidak lebih dari 0,2mg. Apabila berat konstan belum tercapai, maka botol timbang yang berisi sample bahan dimasukkan kedalam oven kembali kemudian dimasukkan ke dalam eksikator untuk didinginkan dan ditimbang kembali sampai didapatkan berat yang konstan.
Berdasarkan data hasil perhitungan didapatkan bahwa kadar air pada telur bebek mentah baik wb maupun db lebih tinggi daripada telur bebek asin. Pada telur bebek asin kandungan airnya lebih rendah disebabkan karena selama pengolahan telur asin direndam lebih dahulu didalam larutan garam, sehingga terjadi perbedaan konsentrasi antara bagian dalam dengan bagian luar. Adanya perbedaan konsentrasi ini mengakibatkan terjadinya osmosis yaitu keluarnya air dari bagian dalam telur ke luat sehingga kadar air pada telur asin akan berkurang dan hasilnya menjadi lebih rendah.

Standarisasi Larutan Natrium Tetra Borat
Larutan Natrium Tetra Borat merupakan larutan sekunder, yaitu larutan yang mudah mengalami perubahan selama penyimpanan karena pengaruh pH rendah, sinar matahari, dan kontaminasi bakteri. Oleh karena itu larutan ini perlu distandarisasi untuk mengetahui normalitas sesungguhnya.
Adapun langkah yang dilakukan dalam proses standarisasi larutan Na Tetra borat adalah dengan cara menimbang 0,05 gram Natrium Tetra Borat dalam bentuk kristal lalu dimasukkan dalam Erlenmeyer dan ditambah aquadest sebanyak 10 ml dan 2 tetes indikator BCG-MR, setelah itu dititrasi dengan larutan HCl 0,1 N sampai warna merah jambu. Penggunaan indicator BCG-MR betujuan untuk memudahkan dalam pengamatan titik akhir titrasi. Dari hasil percobaan diperoleh normalitas larutan Natrium Tetra Borat 0,02 N.

Penentuan Protein Total
Dalam penentuan protein cara Kjeldahl ini, kandungan unsur N yang didapatkan tidak hanya berasal dari protein saja. Mengingat jumlah kandungan senyawa lain selain protein dalam bahan biasanya sangat sedikit, maka penentuan jumlah N total ini mewakili jumlah protein yang ada, sehingga disebut kadar protein kasar. Analisa protein total Kjeldahl terdiri atas tiga tahapan; destruksi, destilasi dan titrasi. Berikut kadar protein total sampel telur bebek mentah tawar dan asin yang diperoleh:

Sampel Kadar protein (%)
wb db
Telur bebek mentah tawar 14,0594 46,0389
Telur bebek mentah asin 17,7482 50,1091

Metoda Mikrokjeldahl
Prinsipnya adalah penentuan jumlah Nitrogen (N) yang dikandung oleh suatu bahan dengan cara mendegradasi protein bahan organik dengan menggunakan asam sulfat pekat untuk menghasilkan nitrogen sebagai amonia, kemudian menghitung jumlah nitrogen yang terlepas sebagai amonia lalu mengkonversikan ke dalam kadar protein dengan mengalikannya dengan konstanta tertentu. Disebut sebagai metode mikro (Mikrokjeldahl) karena ukuran sampel kecil, yaitu kurang dari 300 mg. Jika sampel yang digunakan lebih dari 300 mg disebut metode makro. Metode mikro digunakan pada bahan yang diduga hanya mengandung sedikit N. Analisa protein dengan metode Mikrokjeldahl pada dasarnya dapat dibagi menjadi tiga tahapan, yaitu proses destruksi, proses destilasi, dan tahap titrasi.
1) Proses destruksi
Pada tahap ini, sampel dipanaskan dalam asam sulfat pekat sehingga terjadi penguraian sampel menjadi unsur-unsurnya yaitu unsur-unsur C, H, O, N, S, dan P. Unsur N dalam protein ini dipakai untuk menentukan kandungan protein dalam suatu bahan. 100 mg sampel yaitu kedelai, tepung terigu, dan kedelai ditambah dengan katalisator N 0,5-1 gram dibungkus dengan kertas saring untuk memudahkan dalam memasukkan ke dalam tabung reaksi besar, karena jika tidak sampel dan katalisator akan tercecer. Selain itu kertas saring juga berfungsi untuk menyaring filtrat dengan residu. Katalisator berfungsi untuk mempercepat proses destruksi dengan menaikkan titik didih asam sulfat saat dilakukan penambahan H2SO4 pekat serta mempercepat kenaikan suhu asam sulfat, sehingga destruksi berjalan lebih cepat. Katalisator N terdiri dari campuran K2SO4 dan HgO dengan perbandingan 20 : 1. Tiap 1 gram K2SO4 dapat menaikan titih didih 3 0C (Sudarmadji dkk., 1996). Karena titik didih tinggi maka asam sulfat akan membutuhkan waktu yang lama untuk menguap. Karena hal ini kontak asam sulfat dengan sampel akan lebih lama sehingga proses destruksi akan berjalan lebih efektif. Selain itu juga dibuat blanko dalam tabung reaksi besar yang berisi katalisator N dan 3 ml H2SO4 agar analisa lebih tepat. Blanko ini berfungsi sebagai faktor koreksi dari adanya senyawa N yang berasal dari reagensia yang digunakan.
Setelah ditambah katalisator N, sampel dimasukkan dalam tabung reaksi besar kemudian ditambah dengan 3 ml H2SO4 pekat. H2SO4 pekat yang dipergunakan untuk destruksi diperhitungkan dari adanya bahan protein. Asam sulfat yang bersifat oksidator kuat akan mendestruksi sampel menjadi unsur-unsurnya. Untuk mendestruksi 1 gram protein diperlukan 9 gram asam sulfat. Penambahan asam sulfat dilakukan dalam ruang asam untuk menghindari S yang berada di dalam protein terurai menjadi SO2 yang sangat berbahaya. Setelah penambahan asam sulfat larutan menjadi keruh.
Tabung reaksi besar yang berisi sampel kemudian ditempatkan dalam alat destruksi (destruktor) dan ditutup. Setelah siap alat di-ON-kan dan akan terjadi pemanasan yang mengakibatkan reaksi berjalan lebih cepat. Sampel didestruksi hingga larutan berwarna jernih yang mengindikasikan bahwa proses destruksi telah selesai. Selama destruksi, akan terjadi reaksi sebagai berikut :
HgO + H2SO4 HgSO4 + H2O
2 HgSO4 Hg2SO4 + SO2 + 2 On
Hg2SO4 + 2 H2SO4 2 HgSO4 + 2 H2O + SO2
(CHON) + On + H2SO4 CO2 + H2O + (NH4)2SO4
(Sudarmadji, 1996)
Alat destruksi bekerja berdasar prinsip lemari asam. Selama proses destruksi akan dihasilkan gas SO2 yang berbau menyengat dan dapat membahayakan jika dihirup dalam jumlah relatif banyak. Gas yang dihasilkan ini akan bergerak ke atas (tersedot penutup) dan akan disalurkan ke alat penetral. Alat ini terdiri dari dua larutan yaitu NaOH dan aquadest. Awalnya gas SO2 akan masuk dalam tabung yang berisi NaOH. Dalam tabung ini terjadi penetralan gas SO2 oleh larutan NaOH. Kemudian gas hasil penetralan tahap pertama masuk dalam tabung kedua yang berisi aquadest. Dalam tabung ini kembali terjadi penetralan sehingga diharapkan semua gas SO2 telah ternetralkan. Selain dibebaskan gas SO2 juga dibebaskan gas CO2 dan H2O sesuai dengan reaksi sebagai berikut : panas
Bahan organik + H2SO4 CO2 + SO2 + (NH4)2SO4 + H2O
Proses destruksi dapat dikatakan selesai apabila larutan berwarna jernih. Larutan yang jernih menunjukkan bahwa semua partikel padat bahan telah terdestruksi menjadi bentuk partikel yang larut tanpa ada partikel padat yang tersisa. Larutan jernih yang telah mengandung senyawa (NH4)2SO4 ini kemudian didinginkan supaya suhu sampel sama dengan suhu luar sehingga penambahan perlakuan lain pada proses berikutnya dapat memperoleh hasil yang diinginkan karena reaksi yang sebelumnya sudah usai.
2) Proses destilasi
Larutan sampel jernih yang telah dingin kemudian ditambah dengan aquadest untuk melarutkan sampel hasil destruksi dan blankonya agar hasil destruksi dapat didestilasi dengan sempurna serta untuk lebih memudahkan proses analisa karena hasil destruksi melekat pada tabung reaksi besar. Kemudian larutan sampel dan blanko didestilasi dalam Kjeltec. Pada dasarnya tujuan destilasi adalah memisahkan zat yang diinginkan, yaitu dengan memecah amonium sulfat menjadi amonia (NH3) dengan menambah 20 ml NaOH-Na2S2O3 kemudian dipanaskan. Prinsip destilasi adalah memisahkan cairan atau larutan berdasarkan perbedaan titik didih. Fungsi penambahan NaOH adalah untuk memberikan suasana basa karena reaksi tidak dapat berlangsung dalam keadaan asam. Sedangkan fungsi penambahan Na2S2O3 adalah untuk mencegah terjadinya ion kompleks antar ammonium sulfat dengan Hg dari katalisator (HgO) yang membentuk merkuri ammonia sehingga membentuk ammonium sulfat. Kompleks yang terjadi ikatannya kuat dan sukar diuapkan. HgO merupakan senyawa yang sukar dipecah dan bersifat mudah meledak. Na2S2O3 berfungsi untuk mengendapkan HgO sehingga tidak mengganggu reaksi kimia selanjutnya.
Hg + aquadest + SO4 HgSO4 + aquadest
Pada tahap destilasi, ammonium sulfat dipecah menjadi ammonia (NH3) dengan penambahan NaOH sampai alkalis dan dipanaskan oleh pemanas dalam alat Kjeltec. Selain itu sifat NaOH yang apabila ditambah dengan aquadest menghasilkan panas, meski energinya tidak terlalu besar jika dibandingkan pemanasan dari alat Kjeltec, ikut memberikan masukan energi pada proses destilasi. Panas tinggi yang dihasilkan alat Kjeltec juga berasal dari reaksi antara NaOH dengan (NH4)2SO4 yang merupakan reaksi yang sangat eksoterm sehingga energinya sangat tinggi. Ammonia yang dibebaskan selanjutnya akan ditangkap oleh larutan asam standar. Asam standar yang dipakai dalam percobaan ini adalah asam borat. Asam standar yang dapat dipakai adalah asam borat 4 % dalam jumlah yang berlebihan.
Larutan sampel yang telah terdestruksi dimasukkan dalam Kjeltec dan ditempatkan di sebelah kiri. Kemudian alat destilasi berupa pipa kecil panjang dimasukkan ke dalamnya hingga hampir mencapai dasar tabung reaksi sehingga diharapkan proses destilasi akan berjalan maksimal (sempurna). Erlenmeyer yang berisi 5 ml asam borat 4 % + BCG-MR (campuran brom cresol green dan methyl red) ditempatkan di bagian kanan Kjeltec. BCG-MR merupakan indikator yang bersifat amfoter, yaitu bisa bereaksi dengan asam maupun basa. Indikator ini digunakan untuk mengetahui asam dalam keadaan berlebih. Selain itu alasan pemilihan indikator ini adalah karena memiliki trayek pH 6-8 (melalui suasana asam dan basa / dapat bekerja pada suasana asam dan basa) yang berarti trayek kerjanya luas (meliputi asam-netral-basa). Pada suasana asam indikator akan berwarna merah muda, sedang pada suasana basa akan berwarna biru. Setelah ditambah BCG-MR, larutan akan berwarna merah muda karena berada dalam kondisi asam.
Asam borat (H3BO3) berfungsi sebagai penangkap NH3 sebagai destilat berupa gas yang bersifat basa. Supaya ammonia dapat ditangkap secara maksimal, maka sebaiknya ujung alat destilasi ini tercelup semua ke dalam larutan asam standar sehingga dapat ditentukan jumlah protein sesuai dengan kadar protein bahan. Selama proses destilasi lama-kelamaan larutan asam borat akan berubah membiru karena larutan menangkap adanya ammonia dalam bahan yang bersifat basa sehingga mengubah warna merah muda menjadi biru.
Reaksi yang terjadi :
(NH4)SO4 + NaOH Na2SO4 + 2 NH4OH
2NH4OH 2NH3 + 2H2O
4NH3 + 2H3BO3 2(NH4)2BO3 +H2
Reaksi destilasi akan berakhir bila ammonia yang telah terdestilasi tidak bereaksi basis. Setelah destilasi selesai larutan sampel berwarna keruh dan terdapat endapan di dasar tabung (endapan HgO) dan larutan asam dalam erlenmeyer berwarna biru karena dalam suasana basa akibat menangkap ammonia. Ammonia yang terbentuk selama destilasi dapat ditangkap sebagai destilat setelah diembunkan (kondensasi) oleh pendingin balik di bagian belakang alat Kjeltec dan dialirkan ke dalam erlenmeyer.
3. Tahap titrasi
Titrasi merupakan tahap akhir dari seluruh metode Kjeldahl pada penentuan kadar protein dalam bahan pangan yang dianalisis. Dengan melakukan titrasi, dapat diketahui banyaknya asam borat yang bereaksi dengan ammonia. Untuk tahap titrasi, destilat dititrasi dengan HCl yang telah distandarisasi (telah disiapkan) sebelumnya. Normalitas yang diperoleh dari hasil standarisasi adalah 0,02 N. Selain destilat sampel, destilat blanko juga dititrasi karena selisih titrasi sampel dengan titrasi blanko merupakan ekuivalen jumlah nitrogen. Jadi, banyaknya HCl yang diperlukan untuk menetralkan ekuivalen dengan banyaknya N. Titrasi HCl dilakukan sampai titik ekuivalen yang ditandai dengan berubahnya warna larutan biru menjadi merah muda karena adanya HCl berlebih yang menyebabkan suasana asam (indikator BCG-MR berwarna merah muda pada suasana asam). Melalui titrasi ini, dapat diketahui kandungan N dalam bentuk NH4 sehingga kandungan N dalam protein pada sampel dapat diketahui:


Kadar nitrogen (% N) dapat ditentukan dengan rumus :
% N = (ts – tb) x N HCl x 14,008 x 100 %
mg sampel
dengan ts : volume titrasi sampel
tb : volume titrasi blanko
% protein (wb) = % N x fk
dengan fk : faktor konversi / perkalian = 6,25
Dasar perhitungan penentuan protein menurut metode ini adalah hasil penelitian dan pengamatan yang menyatakan bahwa umumnya protein alamiah mengandung unsur N rata-rata 16 % (dalam protein murni). Karena pada bahan belum diketahui komposisi unsur-unsur penyusunnya secara pasti maka faktor konversi yang digunakan adalah 100/16 atau 6,25. Apabila pada bahan telah diketahui komposisinya dengan lebih tepat maka faktor konversi yang digunakan adalah faktor konversi yang lebih tepat (telah diketahui per bahan) (Sudarmadji dkk., 1996).
Dari hasil titrasi diketahui volume titrasi telur bebek mentah tawar (11,1 ml dan 10 ml) lebih kecil daripada telur bebek mentah asin (11,5 ml dan 13,7 ml) sehingga didapatkan %N dan kadar protein yang lebih besar pada telur bebek mentah asin.
Hal ini sesuai dengan teori (anonim, 20054) dimana kandungan protein pada telur bebek mentah asin (13,6%) lebih besar daripada telur bebek mentah tawar (13,1%). Pada telur bebek mentah asin garam berfungsi sebagai pencipta rasa asin dan sekaligus bahan pengawet karena dapat mengurangi kelarutan oksigen (oksigen diperlukan oleh bakteri), menghambat kerja enzim proteolitik (enzim perusak protein), dan menyerap air dari dalam telur (Anonim, 20054). Kemungkinan besar adanya garam dalam mengikat air pada telur bebek mentah asin menyebabkan air yang biasa digunakan unruk reaksi proteolisis enzimatis terbatas selain juga mendenaturasi enzim proteolitik, sehingga kandungan proteinnya lebih tinggi daripada telur bebek mentah tawar.

Analisa Kecernaan Protein dan Kadar N Total Filtrat
Sampel Kadar Total Filtrat Daya Cerna (%)
% N % P
Telur bebek mentah tawar
Telur bebek mentah asin 0,0274
0,0788 0,1712
0,4922 0,7949
12,0487

Penentuan kecernaan protein yang dilakukan pada percobaan menggunakan metode in vitro dengan menentukan kadar protein total dalam bahan makanan (kadar total awal) diikuti dengan penentuan kadar protein total dalam bahan makanan yang telah dicerna (kadar protein tercerna) oleh enzim. Penentuan kadar protein total dilakukan dengan metode Mikrokjeldahl. Daya cerna (%) dari protein yang terdapat dalam bahan makanan merupakan perbandingan antara kadar N total filtrat yang menunjukkan kadar protein tercerna total dengan kadar N total sampel yang menunjukkan protein awal total.
Analisis kecernaan protein dilakukan dengan metode in vitro menggunakan enzim pepsin. Proses pemecahan protein oleh enzim protease, pepsin, dilakukan menyerupai proses pencernaan (pengkondisian) seperti yang terjadi dalam lambung manusia dengan melakukan beberapa perlakuan. Pertama-tama sampel, yaitu telur bebek mentah tawar dan telur bebek mentah asin, diaduk bagian putih dan kuning telur dalam mangkok menggunakan pengaduk (sendok) hingga tercampur merata. Bagian kuning telur pada sampel telur asin mentah terlihat menggumpal karena proteinnya telah terdenaturasi dan terjadi penggumpalan. Sehingga ketika homogenisasi (pengadukan) gumpalan-gumpalan tersebut dihancurkan hingga tercampur dengan bagian putih telur.
Selanjutnya diambil masing-masing sebanyak 200 mg dan dimasukkan dalam erlenmeyer. Kemudian ditambahkan 9 ml buffer Walphole 0,2 N dan 1 ml enzim pepsin 2%. Penambahan buffer bertujuan untuk mengkondisikan sampel seperti dalam sistem pencernaan manusia. Lambung manusia memiliki kondisi yang hampir sama, yaitu kondisi asam, karena adanya sekresi asam lambung oleh sel-sel mukosa lambung. Asam lambung akan membuat pH dalam lumen sekitar 2-2,5 yang merupakan pH optimum untuk aktivitas enzim pepsin (Rani, 2002). Sehingga pada pH ini merupakan kondisi optimum untuk bekerjanya enzim pepsin mengkatalisis hidrolisis protein pada sampel. Selain itu kondisi asam dalam lambung diperlukan untuk mengubah bentuk pepsinogen yang belum aktif menjadi pepsin aktif.
Langkah berikutnya adalah melakukan inkubasi dalam waterbath bergoyang selama 1,5 jam pada suhu +370C. Selama inkubasi akan terjadi hidrolisis protein oleh enzim pepsin. Kondisi inkubasi disesuaikan dengan kondisi lambung dimana suhu 37¬0C merupakan suhu normal tubuh manusia. Waterbath goyang merupakan pengkondisian sampel yang menyerupai gerak peristaltik lambung yang berfungsi untuk menghomogenkan bahan (bolus) dengan getah lambung agar fungsi getah lambung optimal dan diperoleh campuran yang homogen.
Sampel kemudian disentrifuse dengan kecepatan 3000 rpm selama 20 menit. Sentrifugasi dilakukan untuk memisahkan dua fraksi dalam campuran sampel berdasarkan gaya sentrifugal yang diberikan dan perbedaan besarnya massa (kaitannya dengan densitas). Komponen yang memiliki densitas lebih besar akan berputar pada posisi yang menjauh dari sumbu putaran. Sebaliknya yang lebih kecil akan berputar mendekati sumbu putar (Earle, 1983). Hasil dari sentrifugasi adalah supernatan (cairan) yang terpisah dari natan (padatan). Natan merupakan bagian yang tidak tercerna atau yang memiliki densitas lebih besar dibanding supernatan yang mengandung bagian yang telah tercerna membentuk polipeptida sederhana dengan densitas lebih kecil. Bagian natan dibuang sedang supernatannya diambil sebanyak 5 ml dan dimasukkan dalam tabung reaksi. Supernatan ditambah dengan 5 ml TCA (Trichloro Acetyc Acid) 20% selanjutnya didiamkan selam 1,5 jam. Namun pada pelaksanaan ketika praktikum pendiaman dilakukan selama 24 jam hingga percobaan hari berikutnya. Menurut Ajib (2002), perlakuan sentrifugasi dan penambahan TCA dimaksudkan untuk memisahkan bagian yang tercerna dengan bagian yang tidak tercerna (termasuk enzim protease yang digunakan).
Kemudian dilakukan penyaringan menggunakan kertas saring Whatman nomor 41 untuk memisahkan enzim dari protein yang tercerna. Filtrat yang dihasilkan selanjutnya dianalisis kandungan nitrogennya sehingga dapat ditentukan jumlah protein yang tercerna (Ajib, 2002). Metoda penentuan N total filtrat untuk mengetahui daya cerna protein sama dengan metoda yang digunakan pada penentuan N total bahan (kadar protein awal total), yaitu metoda Mikrokjeldahl. Makin tinggi kecernaan protein maka makin banyak jumlah asam-asam amino yang dapat diserap dan dimanfaatkan oleh tubuh.
Dari percobaan diketahui daya cerna pada telur bebek mentah tawar 0,7949 % dan telur bebek mentah asin 12,0487 %. Hal ini menunjukkan bahwa protein pada telur mentah asin lebih mudah dicerna dan diserap oleh tubuh dibandingkan protein pada telur mentah tawar. Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi daya cerna suatu protein meliputi kondisi fisik dan kimia bahan. Salah satunya adalah perbandingan asam amino yang menyusun protein. Protein yang sudah mengalami denaturasi akan mudah dicerna (Muchtadi, 1989).
Menurut Cantraow (1963), ada beberapa perlakuan yang dapat menyebabkan proses denaturasi, yaitu perlakuan fisik seperti panas, sinar UV, dan tekanan tinggi serta perlakuan kimia seperti pemberian perlakuan organik, asam, alkali, garam, dan detergen. Karena ruisaknya ikatan-ikatan yang membentuk konfigurasi molekul protein maka protein akan lebih mudah diserang oleh enzim protease. Selain itu, protein yang telah terdenaturasi lebih mudah dicerna karena struktur molekul protein berubah, lipatan molekul akan terbuka sehingga tempat penyerangan enzim menjadi lebih banyak. Enzim pepsin akan memecah protein menghasilkan pepton dan polipeptida yaitu sebagian protein yang lebih sederhana. Sehingga proses penyerapan protein telur asin menjadi lebih mudah.
Dari perhitungan hasil percobaan, diperoleh hasil kadar protein total pada Kedelai > Kacang tanah > Tepung terigu. Hal ini sudah sesuai dengan teori berdasarkan komposisi bahan meskipun terdapat selisih nilai kadar protein total dalam komposisi bahan dengan hasil percobaan. Selisih nilai ini dapat diakibatkan pengaruh lingkungan yang berbeda antar lingkungan percobaan dengan lingkungan penelitian pada pustaka ataupun perlakuan yang kurang cermat pada sampel.
Metode ini mengandung kelemahan karena dalam penentuan jumlah protein, seharusnya hanya nitrogen yang berasal dari protein saja yang ditentukan. Akan tetapi, hal ini sulit sekali dilakukan mengingat jumlah kandungan senyawa lain selain protein dalam bahan biasanya sangat sedikit. Penentuan jumlah N total tetap dilakukan untuk mewakili jumlah protein yang ada. Kadar protein yang ditentukan berdasarkan cara Kjeldahl ini disebut sebagai kadar protein kasar (crude protein) karena terikut senyawaan N bukan protein, misalnya urea, asam nukleat, ammonia, nitrat, nitrit, asam amino, amida, purin, dan pirimidin (Sudarmadji dkk., 1996).















V. KESIMPULAN

1. Kadar air pada telur itik mentah sebesar 69,4620% (wb) dan 227,4638% (db). Kadar air pada telur asin mentah sebesar 64,5810% (wb) dan 182,4941% (db).
2. Daya cerna protein pada telur itik tawar adalah 0,7949% dan pada telur asim mentah sebesar 12,0487%.
3. Protein pada telur mentah asin lebih mudah dicerna dan diserap oleh tubuh dibandingkan protein pada telur mentah tawar. Daya cerna protein pada telur asin mentah lebih besar dari pada telur itik mentah karena pada telur asin mentah mengalami denaturasi akibat penggaraman dan kerja mikrobia yang ada dalam telur tersebut yang nantinya dapat memecah protein menjadi asam-asam amino dalam telur asin mentah tersebut.
4. Kadar protein sampel pada telur itik mentah sebesar 14,0594% (wb) dan 46,0389% (db) sedangkan kadar protein sampel telur asin mentah 17,7482% (wb) dan 50,1091% (db).
5. Kadar protein filtrat pada telur itik mentah adalah N = 0,0274% dan P = 0,1712% sedangkan pada telur asin mentah N=0,0788% dan P=0,4922%.


Yogyakarta, 1 April 2006
Asisten Praktikan



Novi Akhsani Rr. Wirastuti
Apriadi Panca N.J.
Yaniek Amanati P.
Sitirahayu
Rr. Pramilih Wahyu N.
Notiana W.
Dyah Ayu





DAFTAR PUSTAKA

Anna Poedjiadi, 1994. Dasar-Dasar Biokimia. Penerbit UI-Press: Jakarta.

Del Valle, F.R. 1981. Nutritional Qualities of Soya Protein as Affected by Processing. JAOCS. 58 : 519

Lehninger.A.L, 1995. Dasar-Dasar Biokimia. Erlangga, Jakarta

Ophart, C.E., 2003. Virtual Chembook. Elmhurst College.

Muchtadi, 1989. Evaluasi Nilai Gizi Pangan. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Jenderal Pendidikan Pusat Antar Universitas Pangan dan Gizi IPB Bogor.

Narasinga, Rao. 1078. Analysis In Vitro methode for Predicting the Bioavailability of Iron From Food. The American Journal of Clinical Nutrition.

Sudarmadji, S., Haryono, B., Suhardi, 1996. Analisa Bahan Makanan dan Pertanian. Penerbit Liberty: Yogyakarta.

Winarno, F. G., 1992. Kimia Pangan dan Gizi. Penerbit Gramedia: Jakarta.

http://www.warintek.progressio.or.id1

http://www.bebas.vlsm.org2

http://www.greatvistachemicals.com3

www.cyberwoman_health.com4